Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tradisi Ceng Beng Masih Lestari, Warga Tionghoa Surabaya Ramai-Ramai Ziarah ke Makam dan Pantai Kenjeran

Lambertus Hurek • Senin, 6 April 2026 | 11:51 WIB
Ratusan warga Tionghoa mengadakan ritual Ceng beng di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya. (LUSI/RADAR SURABAYA)
Ratusan warga Tionghoa mengadakan ritual Ceng beng di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya. (LUSI/RADAR SURABAYA)

 

RADAR SURABAYA - Perayaan Ceng Beng membawa suasana berbeda di sejumlah lokasi pemakaman dan pesisir di Surabaya, Minggu (5/4). Warga Tionghoa tampak ramai melakukan ziarah ke makam keluarga dan leluhur sebagai bagian dari tradisi tahunan tersebut.

Di Makam Kembang Kuning, suasana terlihat lebih padat dibandingkan hari biasanya. Banyak keluarga datang sejak pagi untuk membersihkan makam, menabur bunga, serta memanjatkan doa bagi leluhur mereka.

Baca Juga: Pasar Kupang Surabaya Sudah Ada Sejak 1920-an, Kini Cuma Ramai di Pinggir Jalan

Selain di pemakaman, tradisi Ceng Beng juga dilakukan di kawasan Pantai Kenjeran. Hal ini dilakukan oleh warga Tionghoa yang anggota keluarganya tidak dimakamkan, melainkan dikremasi. Abu jenazah kemudian dilarung ke laut melalui upacara khusus sebagai bentuk penghormatan.

Dede Tanujaya, warga yang tinggal di kawasan Citraland, mengatakan bahwa tradisi larung di laut menjadi pilihan bagi sebagian keluarga. “Karena jenazah keluarga kami dikremasi, maka kami melakukan upacara larung di laut saat Ceng Beng,” ujarnya.

Menurut Dede, Ceng Beng bukan sekadar ritual ziarah, tetapi juga menjadi ajang berkumpul keluarga besar. Momen ini kerap dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga yang jarang bertemu.

Baca Juga: Jadi Alternatif Destinasi Wisata, Wisata Perahu Kalimas Surabaya Ramai Saat Liburan

“Seperti Tahun Baru Imlek, Ceng Beng juga jadi ajang reuni keluarga. Anggota keluarga dari berbagai kota biasanya pulang untuk ziarah bersama,” katanya.

Ia menambahkan, bahkan tidak sedikit keluarga yang datang dari luar negeri demi mengikuti tradisi ini. “Banyak juga yang dari luar negeri rela datang meski biaya perjalanan pasti mahal,” imbuhnya.

Ceng Beng sendiri merupakan tradisi dalam budaya Tionghoa yang berarti ziarah kubur tahunan. Perayaan ini umumnya dilakukan setiap tanggal 5 April sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#ceng beng #kremasi #Tradisi Tionghoa #ziarah kubur #Pantai Ria Kenjeran