Seperti tradisi gereja, umat membawa daun palma yang kemudian diberkati dan diangkat sambil dilambai-lambaikan. Perarakan yang biasanya dimulai dari halaman gereja kali ini dilakukan langsung di dalam gereja. Lagu Yerusalem Lihatlah Rajamu mengiringi prosesi tersebut.
Baca Juga: Pakar Umsura Sebut Kebijakan WFH untuk Hemat Energi, Perlu Pedoman Pembelajaran Daring yang Jelas
Pater Yoseph Djaga Dawan SVD yang memimpin misa mengatakan, perayaan Minggu Palma menjadi momentum penting untuk refleksi sebelum memasuki rangkaian pekan suci.
“Minggu Palma ini perlu jadi bahan renungan kita semua sebelum kita memasuki hari-hari pekan suci,” ujar dia.
Pastor asal Flores Timur itu juga memimpin pemberkatan daun palma yang dibawa jemaat. Setelah diberkati, daun-daun tersebut diangkat tinggi sebagai simbol sukacita menyambut Kristus, sekaligus pengingat perjalanan menuju sengsara-Nya.
Baca Juga: Surabaya Jadi Pangkalan Militer, Banyak Fasilitas Pertahanan Dibangun untuk Melawan Musuh
Menurut dia, setelah Minggu Palma, umat Katolik akan memasuki rangkaian liturgi pekan suci yang dirayakan di seluruh gereja. Mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, hingga puncaknya perayaan Minggu Paskah.
“Pekan suci ini peristiwa iman yang paling penting bagi semua umat Kristiani,” kata dia.
Dia mengajak umat untuk sungguh-sungguh menghayati kisah sengsara Yesus atau Passio Christi yang dibacakan di gereja, khususnya menurut Injil Matius. Kisah tersebut, menurut dia, menggambarkan secara detail keterlibatan banyak pihak dalam peristiwa penyaliban Yesus.
“Ada Pilatus, Kayafas, ribuan warga yang sebelumnya mengelu-elukan Yesus, kemudian Yudas Iskariot ikut mengkhianati gurunya. Apakah ada Yudas di sini? Ada Pilatus di sini? Ada Petrus yang menyangkal sebagai murid Yesus?” tanyanya.
Tentu saja tidak ada umat yang menjawab pertanyaan reflektif seperti ini. (*)
Editor : Lambertus Hurek