RADAR SURABAYA - Kebijakan Work From Home (WFH) yang sempat diwacanakan pemerintah sebagai langkah penghematan energi bagi pekerja maupun pelajar, mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Meski rencana penerapan pembelajaran daring bagi pelajar akhirnya dibatalkan, sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut tetap perlu dikaji secara matang jika suatu saat kembali diterapkan.
Baca Juga: Surabaya Jadi Pangkalan Militer, Banyak Fasilitas Pertahanan Dibangun untuk Melawan Musuh
Dekan Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Achmad Hidayatullah mengatakan pembelajaran daring sebenarnya dapat menjadi solusi praktis dalam menghadapi situasi krisis, baik krisis ekonomi maupun kondisi keamanan.
Namun, menurutnya pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan instruksi pelaksanaan pembelajaran secara online.
Kebijakan tersebut harus diiringi dengan regulasi dan pedoman pembelajaran yang jelas.
Baca Juga: Trafik Data saat Lebaran Melonjak Tajam, Ini Dia Kota di Jawa Timur yang Catat Lonjakan Tertinggi
“Pembelajaran daring memang cara paling mudah ketika menghadapi situasi krisis. Tetapi pemerintah sebaiknya tidak hanya memberi instruksi, melainkan juga menyiapkan regulasi dan panduan yang efektif,” ujarnya, Jumat (27/3).
Ia menilai pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam perlu diterapkan jika sistem pembelajaran daring dijalankan.
Tanpa pendekatan yang tepat, pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa pembelajaran online dapat menurunkan kualitas pendidikan.
Baca Juga: Perindo Jatim Dorong Gubernur Buka Program Magang Siswa saat Liburan
Menurut Hidayatullah, selama masa pandemi banyak siswa mengalami kejenuhan saat mengikuti kelas daring.
Bahkan dampaknya masih terasa hingga sekarang, seperti adanya keterlambatan perkembangan kemampuan dasar pada sebagian siswa.
“Diakui atau tidak, pembelajaran daring saat pandemi sempat menurunkan kualitas belajar. Banyak siswa merasa bosan dan ada yang mengalami keterlambatan kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai pembelajaran daring sebenarnya memiliki potensi untuk membentuk kemandirian belajar pada siswa.
Baca Juga: Harga Emas Minggu 29 Maret Melonjak! Cek Daftar Terbaru UBS, Antam, dan Galeri24
Hal tersebut bisa tercapai apabila proses belajar dirancang dengan pendekatan yang tepat.
Penelitian yang dilakukan Hidayatullah bersama Csikos pada 2023 menunjukkan bahwa kemampuan regulasi diri dalam pembelajaran online dapat berkembang jika siswa merasa nyaman dan kompetensinya difasilitasi dengan baik.
“Ketika siswa merasa nyaman dan kompetensinya terfasilitasi, mereka cenderung mampu mengatur proses belajarnya sendiri,” katanya.
Baca Juga: Gol Debut Mauro Zijlstra Jadi Modal Tampil Lebih Tajam Bersama Timnas Indonesia
Karena itu, ia menilai pembelajaran daring tetap bisa berjalan efektif apabila prinsip pembelajaran mendalam diterapkan dengan baik.
Pendekatan tersebut perlu diarahkan pada pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mendorong siswa untuk lebih mandiri.
Terkait rencana kebijakan yang sempat muncul, yakni materi teori dilakukan secara daring sementara kegiatan praktikum tetap tatap muka, Hidayatullah menilai langkah tersebut sudah tepat.
Menurutnya, materi teoritis dapat disampaikan melalui dialog daring maupun aktivitas membaca yang memang membutuhkan keterampilan regulasi diri.
Sementara itu, kegiatan praktikum memerlukan pengalaman langsung yang sulit digantikan secara online.
“Misalnya praktikum di bidang biologi, kesehatan, atau teknik yang membutuhkan alat laboratorium. Kegiatan seperti itu sulit dilakukan secara daring,” terangnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa