Tradisi Lebaran Ketupat di Kampung Nelayan Sukolilo Baru Surabaya, Berbagai Menu Habis Diserbu Dalam 20 Menit
Rahmat Sudrajat• Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:41 WIB
Warga berebut makanan dalam perayaan Lebaran Ketupat di Sukolilo Baru Surabaya yang menjadi tradisi turun temurun. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)RADAR SURABAYA - Ratusan warga memenuhi jalan di kawasan Sukolilo Baru, Surabaya, Jumat sore (27/3), untuk mengikuti tradisi Lebaran Ketupat yang digelar setiap tahun. Mereka sudah bersiap-siap mengantre sejak pukul 15.30 WIB, bahkan membawa tempeh atau baki untuk dibawa pulang makanan gratis yang disajikan dari puluhan stan berjejer sepanjang lebih dari 300 meter. Tak sampai setengah jam, seluruh hidangan sudah habis diserbu warga.Lebaran Ketupat merupakan tradisi turun temurun yang digelar seminggu setelah Idul Fitri oleh warga RW 02 Kelurahan Sukolilo Baru, kampung nelayan pesisir Pantai Kenjeran. Baca Juga: Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA Series 2026 Usai Kalahkan Saint Kitts and Nevis 4-0Hidangan yang disajikan beragam, mulai dari sate daging ketupat, urap-urap ketupat, bakso ketupat, sop ketupat, mie ketupat, hingga aneka minuman."Tradisi Lebaran Ketupat ini merupakan budaya turun temurun di kampung nelayan kami. Ini wujud syukur kepada Allah SWT karena luasnya lautan yang bisa kita andalkan untuk menangkap ikan," ujar Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bahari Sukolilo Baru, Tri Eko Sulistyowati.Lebaran Ketupat merupakan tradisi turun temurun yang digelar warga di Sukolilo Baru Surabaya. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)Menurutnya, tradisi ini awalnya bernama Kupat Mini yang dilakukan oleh anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan sistem barter tanpa uang.Baca Juga: Cegah Balap Liar hingga Tawuran, Polres Tanjung Perak Sisir Titik Rawan di Surabaya Utara"Dulu anak-anak bikin ketupat di depan rumah, lalu melakukan transaksi dengan bahasa 'tumbas' atau 'tuku' (beli) sebagai barter. Jadi sejak dini sudah diajari nilai kewirausahaan dengan filosofi tertentu," jelasnya.Penyelenggaraan lebaran ketupat secara massal awalnya dilakukan di depan halaman SD Muhammadiyah 9 pada 2016, sempat terhenti dan dialihkan ke gang-gang rumah karena pandemi Covid-19. "Tiga tahun terakhir ini, karena kondisi sudah membaik, kami coba lestarikan dengan lebih meriah dan membukanya untuk umum. Akibatnya ada pergeseran penjual bukan lagi anak-anak, melainkan orang dewasa, dan hidangan yang disajikan pun beragam dengan porsi besar," ungkapnya.Baca Juga: Era Baru Harry Potter, Serial Akan Lebih Setia pada Buku AsliTri juga menjelaskan bahwa jadwal pelaksanaan sore hari dipilih untuk menghormati perbedaan hari raya antara Muhammadiyah dan pemerintah. "Di RW kami ada penganut NU dan Muhammadiyah, jadi dengan menggelar sore hari, kedua kelompok bisa ikut serta karena menurut hitungan Jawa sudah masuk hari berikutnya," katanya.Kegiatan murni dilakukan oleh warga sendiri tanpa dukungan dari pihak manapun. Setiap warga menyediakan hidangan berbeda-beda, mulai dari mie, lodeh keroan, urap keroan, hingga jajanan tradisional jadul seperti apem dan es tape.Baca Juga: Bulgaria Hancurkan Kepulauan Solomon 10-2 di FIFA Series 2026, Melaju ke FinalBahkan menurutnya ada warga yang menyediakan 10 menu untuk disajikan kepada warga lainnya. "Hanya dalam 20 menit saja semua makanan ludes. Banyak warga yang membawa hidangan dari berbagai stan hingga nampannya penuh, lalu dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga," pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Nurista Purnamasari