Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mahasiswa FT Ubaya Ciptakan Sistem Rasaya untuk Pantau Kesehatan Mental Siswa, Begini Cara Kerjanya

Andy Satria • Kamis, 26 Maret 2026 | 15:09 WIB
INOVASI MAHASISWA: Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Chavel Aiko Ratu menunjukkan karya inovasinya untuk memantau dan mendukung layanan konseling, serta kesehatan mental siswa secara lebih sistematis, di kampus setempat. (IST)
INOVASI MAHASISWA: Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Chavel Aiko Ratu menunjukkan karya inovasinya untuk memantau dan mendukung layanan konseling, serta kesehatan mental siswa secara lebih sistematis, di kampus setempat. (IST)

RADAR SURABAYA - Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik (FT) Universitas Surabaya (Ubaya), Chavel Aiko Ratu, menciptakan inovasi sistem informasi bernama Rasaya. 

Sistem ini dirancang untuk membantu sekolah dalam memantau dan mendukung layanan konseling, serta kesehatan mental siswa secara lebih sistematis.

Baca Juga: Dua Tahun Tanpa Anggaran, Ini Harapan DPRD pada Pemkot Surabaya Terkait Proyek SERR

Rasaya merupakan sistem berbasis web dan aplikasi smart phone yang dapat diakses oleh tiga peran utama di sekolah, yakni admin sekolah, guru atau wali kelas, serta siswa. 

Melalui sistem tersebut, berbagai data yang dimasukkan akan diolah untuk menghasilkan kesimpulan dan tren kondisi kesehatan mental siswa. 

Hasil analisis ini dapat menjadi acuan bagi guru maupun pihak sekolah dalam mengambil keputusan terkait pendampingan siswa.

Baca Juga: Smart Solar Dryer Dome untuk Naikkan Nilai Produk Petani di Mojokerto

Chavel menjelaskan, ide pembuatan Rasaya muncul dari keprihatinannya terhadap masih sulitnya sekolah mendata kondisi kesehatan mental siswa secara terstruktur. 

Kondisi ini kerap membuat gangguan mental tidak terdeteksi sejak dini.

“Sering kali sekolah kesulitan melakukan pencatatan kondisi mental siswa. Akibatnya, ada masalah yang baru diketahui ketika sudah cukup serius,” ujarnya, Kamis (26/3). 

Baca Juga: DPRD Minta Pemkot Surabaya Juga Gerakkan Ekonomi Pelaku UMKM, Tidak Hanya Pasar Murah

Untuk itu, Chavel melakukan dengan melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner di salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

Hasilnya ia menemukan bahwa banyak siswa merasa malu untuk menyampaikan perasaan mereka secara langsung kepada guru.

“Berdasarkan wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata para siswa malu untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan secara langsung kepada gurunya. Jadi, guru juga tidak sepenuhnya memahami kondisi yang sedang dialami siswa,” jelasnya.

Baca Juga: Keluhan Kesehatan Pemudik Kapal Laut di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Dominasi Maag, ISPA hingga Diare

Data yang diperoleh kemudian didiskusikan bersama dosen pembimbing, Dr. Liliana, untuk merancang sistem yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. 

Serta mengembangkan Rasaya dengan berbagai fitur yang dirancang agar mudah digunakan. 

Dalam proses analisis data, Rasaya memanfaatkan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis, yaitu metode yang mengidentifikasi emosi atau sikap pengguna menjadi kategori positif, negatif, atau netral berdasarkan kamus kata tertentu. 

Baca Juga: Asal Usul Taksi di Surabaya, Jadi Kendaraan Sewa Warga Eropa

Selanjutnya, algoritma dalam sistem akan mengklasifikasikan data ke dalam beberapa kategori kondisi, seperti stres akademik atau konflik sosial.

Chavel juga melibatkan psikolog anak dan remaja dalam proses validasi, untuk memastikan akurasi analisis tersebut. 

Rasaya dilengkapi sejumlah fitur menarik, seperti daily mood tracker, fitur lapor teman, refleksi harian, riwayat kondisi emosi, hingga pemantauan tren kondisi siswa di tingkat kelas maupun angkatan. 

“Jadi, sumber datanya tidak hanya dari siswa, tetapi juga dari guru, wali kelas, dan teman. Dengan begitu hasilnya lebih objektif,” terangnya.

Baca Juga: Fraksi PDIP DPRD Jatim Minta WFH Rabu Tidak Ganggu Layanan Publik

Hasil analisis dari sistem tersebut dapat menjadi rujukan bagi guru BK atau wali kelas dalam melakukan pendampingan maupun konseling. 

Dengan cara ini, pemantauan kesehatan mental siswa diharapkan dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dalam proses pengembangannya, Chavel mengaku menghadapi tantangan terbesar pada bagian machine learning. 

Ia harus memastikan algoritma yang dirancang dapat bekerja secara akurat.

Baca Juga: Kalaksa BPBD Jawa Timur Tinjau Banjir Besar di Pasuruan, Ribuan Warga Terdampak 

“Dari empat bulan pengerjaan, sekitar tiga bulan saya fokus pada pengembangan machine learning dengan revisi yang sangat banyak. Itu sangat menantang, tetapi akhirnya bisa diselesaikan,” tutur mahasiswa peminatan Sistem Informasi Bisnis tersebut.

Setelah dipresentasikan, Chavel masih terus menyempurnakan sistem Rasaya. 

Ia berharap inovasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh sekolah.

Baca Juga: Pengusaha Optimistis Penjualan Elektronik Tumbuh di Kuartal II/2026, Ini Pemicunya 

“Saya berharap Rasaya bisa membantu sekolah, siswa, guru, bahkan orang tua secara tidak langsung. Karena itu, sistem ini sedang saya siapkan agar nantinya bisa digunakan secara massal,” pungkasnya. (sam/opi) 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#kebutuhan #sekolah #mahasiswa #siswa #Wali kelas #layanan #guru #mental #wawancara #kesehatan #teknik #ubaya #kondisi #Fakultas #kupang