RADAR SURABAYA - Di pusat kota Surabaya, tepatnya di tikungan seberang Tunjungan Plaza, seorang pelukis jalanan setia menawarkan karya seni potret wajah kepada para pejalan kaki.
Karya tersebut bahkan bisa menjadi alternatif oleh-oleh unik bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Pahlawan.
Baca Juga: Ini Pesan Eri Cahyadi dalam Halalbihalal Pemkot Surabaya
Pelukis itu adalah Imam Chudori, seniman yang sudah lebih dari dua dekade membuka jasa lukis potret di Jalan Gubernur Suryo, tepat di depan Apotek Simpang.
Di atas trotoar tersebut, ia setiap hari menunggu pelanggan yang ingin mengabadikan wajahnya dalam bentuk lukisan.
Imam bercerita, kecintaannya pada dunia melukis sudah tumbuh sejak kecil.
Baca Juga: Post Holiday Blues PascaLibur Lebaran Jadi Tantangan Mahasiswa, Psikolog Unesa Sarankan Cara Ini
Namun saat beranjak dewasa, ia sempat ragu apakah kemampuan tersebut bisa menjadi sumber penghidupan.
“Pas tumbuh dewasa sempat mikir juga kelanjutannya bagaimana kalau hanya melukis saja, bisa berkembang atau tidak. Tapi akhirnya, saya tetap kembali ke bakat ini,” ujarnya, Rabu (25/3).
Untuk mempertahankan mimpinya, Imam sempat mencoba berbagai cara.
Baca Juga: ITS Tawarkan Gelar Ganda dengan Kampus Global untuk Mahasiswa Baru, Catat Tanggal Pendaftarannya
Ia pernah menjual sketsa di kawasan Pantai Kenjeran dan aktif mengikuti kegiatan seni di Dewan Kesenian Surabaya.
Dari pergaulan dengan sesama seniman, ia juga sempat mendapat kesempatan membuat ilustrasi untuk media lokal.
Seiring waktu, Imam akhirnya menetap di lokasi yang kini menjadi tempatnya berkarya.
Ia menempati area tersebut setelah mendapat tawaran dari sesama seniman jalanan yang lebih dulu berada di tempat itu.
Menurutnya, bertahan sebagai pelukis potret di pinggir jalan bukan perkara mudah.
Baca Juga: Terungkap Jejak Bengkel Konstruksi Artileri Militer Belanda di Kebalen Surabaya
Mayoritas pelanggannya berasal dari warga lokal. Meski begitu, tidak jarang turis mancanegara dari Jepang maupun Australia singgah untuk membeli lukisan sebagai oleh-oleh Surabaya.
Beberapa tokoh publik juga pernah memesan karyanya. Di antaranya mantan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo hingga Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Imam mengenang, pada awal merintis usaha harga lukisan yang ia tawarkan sangat murah.
Baca Juga: Bursa Transfer Panas! MU vs Liverpool Berebut Alphonso Davies dari Bayern Munich
“Dulu harga satu lukisan hanya sekitar Rp 12 ribu. Setelah lima tahun paling mahal Rp 35 ribu. Akhirnya saya berani menaikkan harga agar lebih dihargai,” kenangnya.
Kini harga lukisan potret buatannya berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 3 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.
Dalam sehari, ia biasanya mampu menyelesaikan satu lukisan berukuran kecil.
Baca Juga: Kakek di Surabaya Nekat Curi Helm untuk Modal Balap Merpati, Tiga Kali Masuk Tahanan
Sementara untuk ukuran standar, proses pengerjaan bisa memakan waktu dua hingga tiga hari, tergantung detail wajah yang digambar.
Pria berusia 54 tahun yang tinggal di Mulyorejo itu menggunakan teknik serbuk pensil untuk menghasilkan gambar yang detail dan realistis.
Meski era digital berkembang pesat, Imam tetap bertahan dengan cara konvensional.
Promosi usahanya lebih banyak mengandalkan pelanggan yang datang langsung atau rekomendasi dari mulut ke mulut.
Baca Juga: Tragis! Mahasiswa Semester Dua UB Tewas di Apartemen Malang, Sempat Tinggalkan Pesan di Medsos
“Sering ada orang yang tiba-tiba datang dan bilang pernah lihat saya di media sosial. Saya sendiri kurang mengerti soal pemasaran online, tapi bersyukur ada yang membantu mempublikasikan,” katanya.
Selain melayani pelanggan di lokasi, Imam juga menerima pesanan lukisan yang dikerjakan di rumah.
Pada momen tertentu seperti menjelang Lebaran, jumlah pesanan bahkan meningkat hingga membuatnya harus bekerja hampir tanpa henti.
Ia pun berharap generasi muda yang memiliki bakat melukis tetap mengembangkan kemampuannya, sembari menempuh pendidikan formal di tengah perkembangan teknologi.
“Saya dulu saingan dengan lulusan seni rupa, tapi saya tetap berusaha tanggung jawab dengan tugas yang diberikan,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa