RADAR SURABAYA - Laboratorium Fakultas Syari’ah dan Hukum melalui Observatorium Astronomi Sunan Ampel (OASA) telah melakukan perhitungan hisab awal Bulan Syawal 1447 Hijriah. Perhitungan dilakukan berdasarkan data astronomis pada koordinat markaz observatorium di Surabaya (Lintang 07° 19’ 23” LS dan Bujur 112° 44’ 01” BT, zona waktu WIB). Hilal sulit terlihat dan diprediksi Idul Fitri jatuh pada 21 Maret.
Kepala Laboratorium Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, Elva Imeldatur Rohmah, menjelaskan hasil hisab menunjukkan ijtima (konjungsi) terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08:23, sekitar 9 jam 17 menit sebelum matahari terbenam. "Matahari terbenam pada pukul 17:41:14 WIB, sedangkan bulan terbenam pada pukul 17:49:41 WIB, sehingga hilal masih berada di atas ufuk selama kurang lebih 8 menit 27 detik setelah ghurub," ujarnya Kamis (19/3).
Menurutnya meskipun hilal berada di atas ufuk, kondisi tersebut masih belum memenuhi standar untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. "Hilalnya memang sudah di atas ufuk. Data hasil hisabnya, itu sudah 1 derajat 40 menitan di atas ufuk. Tapi itu masih sangat rendah di bawah standar MABIMS. Kalau MABIMS kan standarnya 3 derajat minimal ya, untuk hilal itu bisa dilihat. Nah, ternyata masih di bawah standar. Kemudian sudut elongasinya juga masih di bawah standar. Jadi memang tidak memenuhi persyaratan untuk dapat dilihat dengan mata telanjang," jelasnya.
Baca Juga: Vatikan Desak Presiden AS Donald Trump Hentikan Serangan ke Iran, Peringatkan Risiko Eskalasi
Secara astronomis, tinggi hilal mar’i saat ghurub sekitar 1° 41’ dengan elongasi toposentris sekitar 5° 01’. Posisi hilal berada di utara matahari dengan kemiringan ke arah utara. Berdasarkan parameter tersebut, menurut kriteria wujudul hilal awal bulan Syawal telah memenuhi syarat. Namun menurut kriteria Imkanur Rukyat (MABIMS), tinggi hilal dan elongasi belum mencapai ambang batas minimal (tinggi 3° dan elongasi 6,4°), sehingga peluang rukyat hilal diperkirakan sangat kecil.
Dengan demikian, bulan ramadan 1447 H diperkirakan distiktalkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal 1447 H diprediksi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026 M.
Baca Juga: Waspada Banjir Rob di Pesisir Surabaya Jelang Lebaran, Efek Bulan Baru dan Perigee
"Iya, kemungkinan besar kalau NU ini nanti istikmal, jadi lebarannya kemungkinan besar kalau NU mengacu pada hasil perhitungan itu ya Sabtu. Tapi kalau untuk Muhammadiyah sepertinya ya besok (Jumat)," jelasnya.
Elva menambahkan, kondisi hilal di seluruh wilayah Indonesia sangat minim. Karena data-data ketinggian hilal dari Sabang sampai Merauke itu ketika dikumpulkan semua pun tidak ada yang memenuhi standar 3 derajat dan sudut elongasi 6,4. Jadi masih di bawah itu semua.
"Indonesia memang termasuk dalam wilayah yang sangat tidak memungkinkan untuk bisa melihat hilal. Sedangkan di beberapa wilayah lain di belahan dunia ada yang sangat mungkin atau kemungkinan kecil bisa melihatnya," ungkapnya.
Meski peluang melihat hilal sangat kecil, Kementerian Agama (Kemenag) tetap akan melakukan proses validasi melalui rukyatul hilal di beberapa lokasi. "Iya tetap. Di beberapa titik lokasi pengamatan hilal tetap melaksanakan rukyatul hilal, misalkan di Tanjung Kodok, Condrodipo, Gresik, dan lain sebagainya. Untuk memastikan bahwa memang data hisab kita itu valid, jadi divalidasi ulang dengan rukyat.
Baca Juga: Tragedi Mudik di Pelabuhan Gilimanuk: Pemudik Meninggal di Dalam Bus Saat Antrean Panjang
Sekaligus penetapan resmi 1 syawal tetap menunggu hasil Sidang Isbat Kementerian Agama Republik Indonesia," pungkasnya. (rmt/gun)
Editor : Guntur Irianto