Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Nyepi dan idulfitri Dirayakan Beriringan di Indonesia, Inilah Maknanya

Nofilawati Anisa • Kamis, 19 Maret 2026 | 09:21 WIB
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unair, Dr. Listiyono Santoso, S.S., MHum. (IST)
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unair, Dr. Listiyono Santoso, S.S., MHum. (IST)

RADAR SURABAYA – Tahun ini ada dua hari besar keagamaan yang dirayakan beriringan.

Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, sementara yang muslim bersiap-siap menyambut hari kemenangan Idulfitri.

Baca Juga: Dosen Gizi Unair Bagikan Tips Menjaga Pola Makan Seimbang saat Lebaran, Agar SiIaturahmi dan Kesehatan Jalan Terus
 
Fenomena tersebut menjadi menarik, seiring dengan keragaman dan nilai toleransi yang selama ini dipegang oleh masyarakat. 

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. Listiyono Santoso, S.S., MHum menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup secara heterogen.
 
“Adanya perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri secara berdekatan di antara umat beragama Indonesia merupakan hal yang sudah terbiasa terjadi. Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat Indonesia yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan,” ungkapnya. 

Baca Juga: Sambut Nyepi, Umat Hindu di Surabaya Gelar Tawur Agung

Pertemuan-pertemuan dalam konteks kebudayaan turut menjadi faktor utama dalam peristiwa ini. 

Merangkum penuturannya, perbedaan agama bukan menjadi masalah yang serius dalam lingkup negara Bhinneka Tunggal Ika. 

Lebih lanjut, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur itu juga mengajak masyarakat kembali menilik nilai dan makna toleransi. 

Baca Juga: Jatim Bidik Investasi Rp 147,7 Triliun di 2026, Andalkan Industri Strategis dan PMA Besar

Toleransi berasal dari kata tolerare yang berarti sikap sabar dan menahan diri. 

Dalam perkembangannya, toleransi dimaknai sebagai sikap untuk saling menghargai dan memberikan ruang yang sama bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Ia juga menekankan sikap toleransi dapat dicermati dengan memberikan ruang aman bagi orang dengan keyakinan berbeda untuk merayakan keyakinannya. 

“Keyakinan dalam beragama itu dilindungi oleh konstitusi. Maka negara menjamin setiap masing-masing untuk beribadah dengan aman dan setiap orang tidak boleh mengganggu proses ibadah masing-masing agama tersebut,” ujar Wakil Dekan II FIB itu.

Secara substantif, bangsa Indonesia telah menerima perbedaan-perbedaan yang mengakar sejak dahulu. Faktor keberagaman yang melekat menjadikan masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan damai. 

“Negara Indonesia berbeda dengan negara-negara di Eropa. Masyarakat Indonesia secara alamiah tumbuh dan besar dalam perbedaan-perbedaan yang ada,” imbuhnya. 

Baca Juga: Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret

Ia juga menyoroti adanya anasir-anasir yang mengganggu di lingkup masyarakat namun nilainya tidak cukup besar untuk merusak pola tradisi rukun ini. 

Terlebih, Indonesia merupakan negara berbangsa yang secara sah mengakui perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, dan sebagainya. 

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Listiyono berpesan kepada generasi muda untuk melestarikan tradisi toleransi. 

Baca Juga: Warga Surabaya Lebih Suka Perhiasan Emas Model Sederhana, Permintaan Naik 50 Persen Lebih Jelang Lebaran

Menurutnya, generasi muda seperti Gen-Z harus sering menyelenggarakan kegiatan yang menunjukkan kebersamaan lintas iman.

“Generasi muda harus siap untuk hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Sebab, kita bukan masyarakat umum kita adalah masyarakat heterogen. Biasakan diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat heterogenitas agar penerimaan perbedaan terasa lebih muda,” pungkasnya. (opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#kebudayaan #idulfitri #surabaya #toleransi #hindu #nyepi #Unair #dosen