Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kreasi Rendang Minangkabau Hadir di Surabaya, Tantangan Bumbu Jadi Sorotan

Andy Satria • Kamis, 19 Maret 2026 | 00:35 WIB
RENDANG AUTENTIK: Salah satu penikmat kuliner khas Minang, Mozayana, mencoba kreasi kuliner rendang yang dikenal autentik, di salah satu hotel di Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
RENDANG AUTENTIK: Salah satu penikmat kuliner khas Minang, Mozayana, mencoba kreasi kuliner rendang yang dikenal autentik, di salah satu hotel di Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Kreasi olahan rendang khas Minangkabau, dikenal sebagai salah satu kuliner Nusantara yang populer. 

Meskipun banyak ditemukan di Kota Surabaya, namun penyajian rendang autentik masih tergolong jarang, terutama karena keterbatasan bahan baku.

Baca Juga: Dalam 2 Hari Pantauan Mudik 2026, Terjadi 173 Kecelakaan Lalu Lintas dengan 29 Korban Jiwa

Head Chef Zest Hotel Surabaya, Ari Subekti, mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan menu rendang daging sebagai upaya memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara, khususnya dari Minangkabau.

“Rendang daging ini kami sajikan lengkap dengan gulai kacang panjang dan daun pakis. Kami ingin memperkenalkan menu Nusantara, karena di hotel-hotel Surabaya sendiri masih jarang yang menyajikannya,” ujarnya, Rabu (18/3). 

Namun, Ari mengakui ada tantangan tersendiri dalam mengolah rendang autentik di Surabaya. 

Baca Juga: Yamaha STSJ Siapkan Bengkel Siaga dan Pos Jaga Lebaran 2026 untuk Kenyamanan Perjalanan Konsumen Setia

Salah satu kendala utama adalah sulitnya mendapatkan daun kunyit, bahan penting dalam masakan khas Padang.

“Daun kunyit di pasar Surabaya hampir tidak ada, jadi kami harus membeli secara online. Memang di sini tidak umum digunakan, padahal di masakan Minangkabau itu penting,” jelasnya.

Selain bahan, proses memasak juga menjadi kunci utama dalam menghasilkan rendang berkualitas. 

Baca Juga: Harga Beras Naik Jelang Lebaran, Bulog Jatim Sebut Hanya Faktor Psikologis dan Permintaan Meningkat

Ari menyebut, rendang membutuhkan waktu memasak cukup lama agar menghasilkan tekstur daging yang empuk sekaligus bumbu yang meresap sempurna.

“Kalau ingin cepat bisa pakai presto, tapi bumbunya tidak meresap. Kami menggunakan teknik memasak dengan api kecil sambil diaduk perlahan selama sekitar empat jam,” katanya.

Ia menambahkan, ciri khas rendang terletak pada tekstur bumbu yang kental atau “nyemek”. 

Jika masih berkuah, hidangan tersebut lebih tepat disebut kalio. 

Baca Juga: Mudik Lebaran Lebih Tenang, BRI Sediakan Perlindungan Asuransi Premi Terjangkau

“Bumbunya sama, tapi kalau masih berkuah itu namanya kalio, bukan rendang,” imbuhnya.

Proses lain yang tak kalah penting adalah sangrai kelapa, yang turut memengaruhi cita rasa rendang. 

Untuk menjaga kualitas, Zest Hotel menggunakan daging bagian tenderloin yang dinilai lebih empuk dibandingkan potongan lain.

Baca Juga: Komisi III DPR Bentuk Panja Kawal Kasus Andrie Yunus, Desak Perlindungan Maksimal untuk Korban

“Kalau di tempat lain biasanya pakai top side, teksturnya lebih kenyal. Kami pilih tenderloin supaya lebih lembut,” terang Ari.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Mozayana, mengaku puas dengan cita rasa rendang yang disajikan. 

Menurutnya, bumbu yang kaya menjadi daya tarik utama.

Baca Juga: Bobol Toko Gadai di Lontar Surabaya, Tiga Tersangka Ditangkap, Salah Satu Pelaku Mantan Kepala Toko

“Rasanya enak, bumbunya medok. Dagingnya juga empuk dan tidak berlemak. Ini beda dengan rendang yang pernah saya coba sebelumnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagai pecinta masakan Padang, kehadiran rendang autentik di Surabaya menjadi pengalaman kuliner yang menarik. (sam)

Editor : Nofilawati Anisa
#tenderloin #Kota Surabaya #bumbu #online #nusantara #rendang #kuliner #daging