RADAR SURABAYA - Libur keagamaan seperti Idulfitri tidak hanya identik dengan mudik dan berkumpul bersama keluarga.
Di sisi lain, momen ini juga diiringi meningkatnya permintaan layanan tempat tinggal sementara bagi lansia di panti jompo atau senior home living.
Salah satunya terlihat di Atedia Senior Center yang berada di kawasan Royal Residence Surabaya.
Tempat tinggal bagi lansia ini mengalami peningkatan pemesanan kamar menjelang libur Lebaran tahun ini.
Baca Juga: Ramadan Penuh Berkah, Pelindo Sub Regional Jawa Salurkan Bantuan Rp 1,75 Miliar untuk Masyarakat
“Untuk Lebaran kali ini sudah ada lima lansia yang melakukan pemesanan dan memenuhi syarat untuk tinggal sementara di sini,” ujar David, Senin (16/3).
Atedia Senior Center sendiri baru berdiri sejak 2024 dan mengusung konsep komunitas hidup bagi para lansia yang masih aktif dan mandiri.
Karena itu, tidak semua lansia bisa diterima untuk tinggal di tempat tersebut.
Baca Juga: Kemenhaj Sambut Fatwa Muhammadiyah soal Penyembelihan Dam Boleh Dipindah ke Indonesia
David menjelaskan, pihaknya hanya menerima lansia yang kondisi kesehatannya masih baik dan mampu beraktivitas secara mandiri.
“Kalau kondisi lansianya sudah berat atau membutuhkan perawatan intensif, kami belum bisa membantu. Konsep kami adalah komunitas hidup, bukan komunitas sakit,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian besar lansia yang menginap di sana biasanya dititipkan oleh keluarga yang sedang melakukan perjalanan jauh saat libur keagamaan.
Kondisi kesehatan menjadi alasan utama para lansia tidak ikut bepergian bersama keluarga.
Rata-rata masa tinggal lansia di Atedia berkisar antara satu hingga dua minggu, bahkan ada yang hingga satu bulan. Mayoritas penghuni berasal dari Surabaya.
Untuk mendukung aktivitas para lansia, pihak pengelola juga menyediakan berbagai kegiatan rutin.
Setiap pekan, setidaknya ada tiga kegiatan seperti senam lansia, yoga, latihan otot dan keseimbangan, hingga senam otak.
Baca Juga: Hobi Mengamati Burung Ternyata Bisa Meningkatkan Ketajaman Otak
“Selebihnya kami bebaskan mereka beraktivitas. Kami hanya memastikan jadwal makan dan minum obat tetap teratur,” katanya.
Selain itu, pengelola juga melakukan pemantauan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, suhu tubuh, dan saturasi oksigen.
Tersedia pula kunjungan dokter yang memantau kondisi umum serta keluhan yang dirasakan para lansia.
Saat ini terdapat lima lansia yang menginap di Atedia. Sementara untuk program kunjungan harian, tercatat lebih dari 40 lansia yang terdaftar sebagai anggota komunitas.
David menambahkan, sebenarnya cukup banyak lansia yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut.
Namun, keterbatasan syarat kesehatan membuat pihak pengelola harus selektif dalam menerima penghuni.
Menariknya, pada Desember lalu Atedia juga sempat menerima lansia yang datang dari luar negeri, seperti Kanada, Hong Kong, dan Taiwan.
Baca Juga: Perkuat Peran Sosial, Masjid Diharapkan Jadi Pusat Dakwah dan Pembelajaran
Mereka memilih tinggal sementara di Surabaya karena memiliki kenangan masa kecil di kota ini maupun di Mojokerto.
“Ada yang masa kecilnya di Surabaya atau Mojokerto. Di negara asalnya anak-anak mereka sudah tidak ada, tetapi di Indonesia masih punya keluarga, jadi mereka ingin tinggal sementara di sini agar tetap bisa berinteraksi,” jelas David.
Di Atedia, satu kamar dapat ditempati oleh dua orang. Para penghuni juga diperbolehkan membawa asisten pribadi untuk mendampingi selama tinggal.
Baca Juga: KONI Jatim Gandeng BPJS, Cedera Atlet Kini Dijamin dari Latihan hingga Kompetisi
Usia minimal penghuni biasanya setelah masa pensiun, sekitar 57 tahun.
Sementara batas usia maksimal tidak ditentukan selama lansia masih mampu menjalani aktivitas secara mandiri. Bahkan, Atedia pernah menerima penghuni berusia 87 tahun.
“Kami juga memiliki klausul khusus bagi penghuni. Tanggung jawab kami hanya di lingkungan Atedia. Di luar area ini sudah bukan menjadi tanggung jawab kami,” pungkasnya. (sam)
Editor : Nofilawati Anisa