Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

ITS Kaji Lulusan S1 Teknik Lanjut Profesi Insinyur, Hanya Butuh Waktu 5 Tahun Saja

Rahmat Sudrajat • Minggu, 15 Maret 2026 | 14:52 WIB

Rektor UTS Prof. Bambang Pramujati. (IST)
Rektor UTS Prof. Bambang Pramujati. (IST)

RADAR SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berkomitmen memperkuat peran strategis insinyur dalam mendukung pembangunan nasional. 

Komitmen tersebut tercermin dalam kegiatan Dialog Keinsinyuran yang diselenggarakan oleh Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) ITS bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Gedung Rektorat ITS.

Baca Juga: Buka Puasa Gratis Unesa Berakhir, 22 Hari Ramadan Bagikan 99.000 Piring Takjil

Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati mengatakan, wacana percepatan jalur pendidikan profesi insinyur bagi lulusan sarjana teknik. ITS tengah mengkaji skema yang memungkinkan lulusan S1 teknik langsung melanjutkan pendidikan profesi insinyur selama satu tahun. 

“Lulusan sarjana teknik sebenarnya cukup banyak, tetapi yang melanjutkan hingga menjadi insinyur masih relatif sedikit,” ungkapnya, Minggu (15/3).

Melalui skema tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dan profesi insinyur dalam waktu sekitar lima tahun. 

Baca Juga: Sejarah Awal Peradaban Kampung di Surabaya, Dua Kawasan Ini Jadi Kuncinya

Bambang menilai langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan jumlah insinyur profesional di Indonesia. 

“Program ini juga diharapkan bisa meningkatkan Engineering Index pemerintah hingga 28 persen,” tegasnya.

Bambang menyoroti transisi praktik keinsinyuran yang kini menuntut paradigma baru. Insinyur ke depan diharapkan menguasai STEM, efisiensi energi, dan teknologi cerdas, sekaligus mampu memastikan praktik keinsinyuran yang ramah gender dan disabilitas. 

Baca Juga: Sidak Arus Mudik di Surabaya, Kapolri Minta Warga Jangan Paksakan Diri jika Capek

Ia menambahkan bahwa program ini bukan hanya sertifikasi, tetapi menjadi gawang dalam praktik profesional.
“Akselerasi perlu dilakukan agar Indonesia mampu menyiapkan insinyur paripurna yang mendukung visi Indonesia Emas,” ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS ini mengingatkan.

Selain itu, ia juga menggarisbawahi sejumlah isu strategis dalam dunia keinsinyuran, seperti kesenjangan antara inovasi akademik dan kebutuhan industri, pentingnya menjaga integritas serta etika profesi, hingga pesatnya perkembangan teknologi yang perlu dikelola secara bijak oleh para insinyur. 

“Kami berharap para insinyur dapat mengantisipasi tantangan ini dengan profesionalisme dan inovasi,” harap rektor ke-13 ITS tersebut.

Baca Juga: Polemik Fasum Berubah Jadi Kafe, Pemkot Surabaya Sebut Sudah Ada Replanning

Sejalan dengan itu, ITS berencana membahas lebih lanjut penerapan World Engineering Forum Government Engineering Index tahun ini. 

Indeks tersebut akan mengukur praktik keinsinyuran dalam pembangunan daerah, sekaligus meningkatkan kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam memperkuat kualitas dan profesionalisme insinyur.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Prof. Agus Taufik Mulyono menekankan bahwa profesi insinyur memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keselamatan, kesehatan, serta keberlanjutan pembangunan bagi masyarakat.

Baca Juga: Pedagang Pecahan Uang Baru Musiman Menjamur di Surabaya, BI Ingatkan Penukaran Hanya Lewat Jalur Resmi

“Praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi,” pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#profesi #pii #its surabaya #Bambang Pramujati #teknik #teknologi