RADAR SURABAYA - Kantor tua di Jalan Kembang Jepun 171, Surabaya, kerap menjadi tanda tanya bagi pengunjung kawasan wisata Kya-Kya. Bangunan yang bersebelahan dengan kantor Radar Surabaya itu sudah bertahun-tahun mangkrak.
Kini, bangunan tersebut lebih sering dimanfaatkan sebagai tempat mangkal tukang tambal ban. Kondisinya yang sepi dan tidak terawat membuat banyak orang penasaran mengenai fungsi awal gedung tersebut pada masa lalu.
Setelah menelusuri sejumlah arsip lama, akhirnya misteri tersebut terjawab. Pada tahun 1950-an, bangunan di Kembang Jepun 171 itu digunakan sebagai kantor Christian Literature Crusade (CLC).
CLC dikenal sebagai penerbit lama yang produktif menerjemahkan buku-buku rohani Kristen berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu buku yang cukup populer pada masa itu adalah Riwajat Hidup DL Moody.
Anthony Kairupan, pengurus Yakin CLC Indonesia, saat dihubungi Radar Surabaya membenarkan bahwa penerbit CLC pada masa awal berdirinya memang berkantor di Kembang Jepun 171. “Iya, setahu saya dulu CLC pertama kali berkantor di Kembang Jepun,” kata alumnus Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Menurut Anthony, dalam perkembangannya CLC kemudian menyesuaikan diri dengan aturan organisasi yang berlaku di Indonesia. Lembaga tersebut akhirnya berubah bentuk menjadi yayasan. “Akhirnya nama CLC dimodifikasi menjadi Yayasan Kristen Injili disingkat Yakin,” jelas Anthony.
Yayasan tersebut bergerak dalam berbagai kegiatan pelayanan literatur Kristen. Kegiatannya antara lain menerjemahkan, menerbitkan, mempublikasikan, dan mendistribusikan bahan-bahan literatur iman Kristen.
Anthony menambahkan bahwa CLC merupakan organisasi misi yang memiliki jangkauan pelayanan luas. “CLC punya jangkauan pelayanan di 50 negara, termasuk Indonesia,” katanya.
Seiring perjalanan waktu, Penerbit CLC memindahkan kantornya ke Jalan Genteng Besar 85 Surabaya. Dari lokasi tersebut berbagai kegiatan penerbitan dan distribusi literatur rohani dijalankan selama bertahun-tahun.
Namun setelah masa pandemi Covid-19, aktivitas pelayanan kemudian kembali berpindah lokasi. “Saat ini kami pindah dari Genteng Besar ke PTC Surabaya dan Manado,” ujar Anthony. (*)
Editor : Lambertus Hurek