RADAR SURABAYA – Puluhan siswa istimewa tunanetra dari jenjang TK hingga SD di SLB A YPAB Tegalsari, Surabaya, menggelar kegiatan tadarus Alquran menggunakan huruf Braille dengan penuh semangat.
Meski dilakukan siang hari, antusiasme mereka terlihat jelas saat satu per satu melantunkan ayat suci Alquran sambil tangan meraba huruf braille dengan lantang dan halus.
Kepala Sekolah SLB A YPAB Tegalsari, Oktavia Eka Kusumaningtyas menjelaskan, seluruh pembelajaran, termasuk mengaji, menggunakan media Braille karena kondisi murid yang tunanetra.
"Karena muridnya tuna netra, jadi semua menggunakan Braille. Untuk ngaji juga Braille, walaupun Iqro dan Alquran juga menggunakan Braille, seperti itu," ujar Oktavia, Rabu (11/3).
Oktavia menambahkan, siswa didampingi oleh guru, termasuk guru tunanetra yang ahli dalam mengajarkan Braille.
Namun, guru-guru lainnya juga wajib menguasai Braille sehingga tercipta suasana belajar bersama.
"Mereka juga didampingi oleh guru terutama, guru yang tuna netra itu yang mengajarkan Braille untuk anak-anak, tapi untuk guru-guru lainnya juga wajib untuk bisa. Jadi sama-sama belajar, gitu," katanya.
Kegiatan tadarus ini diikuti dengan sangat antusias oleh siswa. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta mengaji dari pagi hingga malam.
Dalam pelaksanaannya, siswa menggunakan Iqro, Alquran Braille, atau metode hafalan, disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Oktavia menjelaskan adanya tiga tipe kondisi siswa yang menjadi alasan perbedaan metode pembelajaran.
Yang pertama tuna netra murni. Itu yang bisa diajak belajar Braille, baik menulis maupun membaca.
Sedangkan ada yang tengah, maksudnya dia di bawahnya yang tuna netra murni. Jadi ada hambatan juga di intelektualnya.
"Nah itu agak kesusahan kalau belajar Braille, jadi menghafal. Yang ketiga adalah MDVI (Multiple Disabilities with Visual Impairment), itu dobel. Jadi juga tuna netra, juga ada hambatan intelektual, ada juga hambatan penyerta lainnya seperti tuna daksa atau autis. Jadi itulah mengapa ada yang Iqro, ada yang hafalan, dan ada yang Alquran," jelasnya.
Kegiatan mengaji rutin dilaksanakan setiap hari Jumat. Namun, selama bulan Ramadan, jadwal tersebut diperluas hingga penuh, menggantikan waktu olahraga dan ekskul.
"Setiap hari Jumat anak-anak mengaji. Tapi untuk selama bulan ramadan, Jumat itu full. Yang biasanya dipakai olahraga, itu dipakai untuk mengaji dan ekskul. Ada ekskul, nah itu diganti mengaji. Jadi tidak ada ekskul, tapi mengaji gitu," ucap Oktavia.
Pemberian waktu khusus untuk mengaji ini dilakukan agar siswa tidak tertinggal dari anak-anak umum dan dapat mendalami agama.
"Memberikan waktu kesempatan anak-anak untuk mengaji sebetulnya karena menurutnya mengaji itu penting. Anak-anak juga bisa lebih mendalami tentang agama gitu. Jadi sama, intinya Alqurannya juga Alquran untuk umum. Alquran Braille itu sama, cuma beda di tulisan saja," ujarnya.
Harapannya, kegiatan ini dapat menambah ilmu dan amal ibadah siswa, terutama di bulan suci ramadan di mana pahala dilipatgandakan.
"Harapannya nanti bisa bertambah ilmunya di mengaji, juga untuk tambah apa namanya ya, amal ibadahnya. Lalu kalau mengaji itu di bulan suci ini kan pahalanya kita itu ditambah. Mereka juga mendengar bahwa ada malam Nuzulul Quran, mereka juga ingin sama seperti kita untuk mendapatkan Nuzulul Quran itu. Jadi dia harus tiap-tiap itu mengaji," tegas Oktavia.
Salah satu siswa kelas 6, Mohammad Sadewa, mengaku sangat senang bisa mengaji di bulan Ramadan.
Baru saja selesai mengaji juz 30, Sadewa menilai mengaji di bulan suci adalah perbuatan yang berpahala.
"Mengaji saat bulan Ramadan itu, ini justru adalah kelakuan yang berpahala. Kenapa? Karena, saya beritahu kan jujur ya, sebenarnya hadis orang tidur saat puasa itu ibadah. Jadi, jangan tidur terus. Kalau nggak ada apa-apa, ya lebih baik ngaji gitu, kayak barusan," ujar Sadewa.
Sadewa juga bercerita bahwa ia sudah mulai mengaji sejak usia 1 tahun.
"Pertama ngaji itu nggak ngenal Braille dulu. Waktu pertama aku ngaji waktu masih bayi itu, aku dengerin, nggak pakai Braille," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa