RADAR SURABAYA – Kasus hipertensi di Kota Surabaya tercatat menjadi yang tertinggi di antara penyakit tidak menular lainnya. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya pada 2025 menunjukkan jumlah penderita hipertensi mencapai 248.193 kasus, menjadikannya penyakit paling dominan yang dihadapi masyarakat kota ini.
Angka tersebut bahkan jauh melampaui penyakit tidak menular lainnya seperti diabetes melitus yang berada di posisi kedua dengan 112.893 kasus.
Melihat tingginya angka tersebut, Pemerintah Kota Surabaya langsung mengambil langkah pencegahan melalui penerbitan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7.10/5702/436.7.2/2026 tentang pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menekan lonjakan penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes yang semakin banyak ditemukan pada masyarakat.
“Iya karena itulah kita perlu melakukan langkah pencegahan melalui pengaturan pola konsumsi masyarakat,” ujarnya.
Anjuran Konsumsi Garam, Gula, dan Minyak per Hari
Dalam surat edaran tersebut, masyarakat diimbau membatasi konsumsi gula maksimal empat sendok makan per orang per hari, garam satu sendok teh per hari, serta lemak atau minyak maksimal lima sendok makan per hari.
Kebijakan ini juga menyasar lingkungan sekolah, perkantoran, hingga fasilitas pelayanan publik. Pemkot Surabaya meminta agar penyedia makanan dan minuman di area tersebut mengurangi produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak tinggi.
Selain itu, satuan pendidikan juga diminta memperketat pengawasan kantin sekolah agar tidak menjual makanan atau minuman yang berisiko memicu penyakit tidak menular.
Pemerintah kota juga mengimbau siswa untuk mengurangi konsumsi minuman manis kekinian seperti es teh manis, es kopi manis, maupun minuman berpemanis dalam kemasan yang kini banyak dijual di kedai dan ritel.
Menurut Lilik, pola konsumsi yang tinggi gula, garam, dan lemak sejak usia dini dapat memicu berbagai penyakit degeneratif di masa depan.
Baca Juga: Kajian di Masjid Al Akbar Surabaya, Ajak Generasi Muda Jalani Ramadan Lebih Tenang
“Pola konsumsi yang terbentuk sejak dini berpotensi berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, maupun obesitas pada usia produktif,” jelasnya.
Selain hipertensi dan diabetes, Pemkot Surabaya juga mencatat peningkatan kasus obesitas pada penduduk usia di atas 15 tahun. Data menunjukkan angka obesitas mencapai 13,48 persen, yang menjadi salah satu faktor risiko utama munculnya penyakit tidak menular.
Untuk menekan angka tersebut, Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kota Surabaya akan mengintensifkan sosialisasi pola hidup sehat kepada masyarakat.
Edukasi tersebut mencakup pembatasan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi air putih, buah, serta sayuran.
“Harapannya masyarakat mulai membangun kebiasaan hidup sehat agar angka hipertensi dan penyakit tidak menular di Surabaya bisa ditekan,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya