Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gelombang AI Bentuk Pola Baru di Industri Periklanan, Brand Butuh Pendekatan Lebih Personal

Nofilawati Anisa • Jumat, 6 Maret 2026 | 10:27 WIB

BERBAGI: Nanda Rizky Perdana menjelaskan mengenai perkembangan industry periklanan, baik local maupun nasional.
BERBAGI: Nanda Rizky Perdana menjelaskan mengenai perkembangan industry periklanan, baik local maupun nasional.

RADAR SURABAYA – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) meledak dalam beberapa tahun terakhir.

Penggunaan kecerdasan buatan itu nyaris merambah semua sektor, mulai pendidikan, kesehatan, lingkungan, pilitik, pemerintahan hingga industri.

“Tahun ini jadi momentum brand untuk semakin engaged dengan pelanggan loyal maupun pelanggan baru melalui brand activation yang mengikuti demand dan perilaku mereka,” kata Nanda.

Lebih jauh ia menjelaskan, industri periklanan bergerak cepat ke arah digitalisasi, personalisasi berbasis AI, dan pendekatan langsung brand ke pelanggan.

Bagi pelaku usaha dan brand lokal, arah tersebut bukan sekadar tren tapi juga menjadi sebuah tantangan.

“Perubahan perilaku konsumen memaksa strategi pemasaran beradaptasi,” ingat lulusan Universitas Airlangga (Unair).

Nanda menyebut jika Increa melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk menguatkan eksekusi dan kolaborasi lintas kanal, termasuk bersama media.

“Increa yang sudah kita kembangkan sejak 2019 juga terus berintegrasi, menyesuaikan ke mana arah industri periklanan, kemauan konsumen maupun klien hingga perkembangan teknologi,” urainya.

Sampai akhirnya hingga saat ini Increa terus mengalami perkembangan, Nanda menyebut karena mereka menggabungkan strategi media, event, aktivasi, hingga kampanye digital dalam satu jalur yang sejalan dengan target bisnis klien.

“Kami membekali klien dengan strategi, perangkat, dan eksekusi yang presisi agar tetap unggul di tengah persaingan. Kami mengintegrasikan media, event, aktivitas, dan pemasaran dalam satu sistem untuk mendorong pertumbuhan bisnis mereka,” jelas Nanda.

Nanda menyebut hampir 40 persen belanja iklan saat ini telah beralih dari media konvensional ke platform digital dan aktivitas pemasaran berbasis engagement. Menurutnya, tren tersebut mencerminkan kebutuhan brand untuk membangun hubungan yang lebih personal dan relevan dengan audiens.

“Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan pengalaman langsung yang membangun ikatan emosional antara brand dan konsumen, khususnya generasi muda,” urainya.

Di tengah pesatnya digitalisasi, aktivitas luring (offline) justru kembali menguat pascapandemi Covid-19.

Nanda menilai masyarakat merindukan pengalaman tatap muka seperti konser, event komunitas, dan aktivitas berbasis fandom.

Asia Tenggara disebut memiliki pasar penggemar yang besar dan loyal, sehingga pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi bernilai ekonomi tinggi bagi brand.

“Pendekatan ke komunitas penggemar sangat efektif untuk membangun kedekatan jangka panjang antara brand dan konsumen,” pungkasnya. (nis/opi)

.

Editor : Nofilawati Anisa
#increa #Artificial Intelligence (AI) #perilaku konsumen #industri periklanan #personalisasi #berbasis data #personal #pendekatan langsung