RADAR SURABAYA - Kegiatan mengaji Alquran bahasa isyarat digelar mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) selama bulan Ramadan di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang.
Mereka yang merupakan mahasiswa dari berbagai jurusan, tampak khusuk mengikuti pembelajaran dengan menggunakan gerak isyarat tangan.
Dengan metode iqrar untuk mempermudah pengenalan huruf Alquran.
Program yang digagas sejak 2024 dan berjalan efektif sejak tahun lalu ini diikuti sekitar 30 pendaftar pada tahun ini.
Meskipun mayoritas peserta merupakan mahasiswa tuli Unesa, kelas ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin bergabung.
Motor penggerak kegiatan ini adalah Komunitas Tuli Unesa, dengan pengajar yang terdiri dari mahasiswa tingkat akhir yang telah tersertifikasi dalam penguasaan bahasa isyarat Alquran.
“Program ini bertujuan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan. Mengaji bukan sekadar rutinitas semata, melainkan upaya meningkatkan ketakwaan dan spiritual mahasiswa disabilitas secara setara,” kata Kasubdit PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, Selasa (3/3).
Ia menambahkan, bagi orang pada umumnya mungkin mengaji itu sederhana, tetapi bagi teman-teman disabilitas ini adalah bentuk ibadah sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan spiritual.
"Kami ingin memastikan Ramadan dapat dijalani secara setara dan bermakna,” harapnya.
Metode pembelajaran dirancang secara adaptif dengan pendekatan visual dan gestural.
Berbeda dengan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) konvensional yang menggunakan metode oral, kelas ini menitikberatkan pada visualisasi gerakan tangan yang merepresentasikan huruf hijaiyah.
Pengajar mengombinasikan standar bahasa isyarat Arab dengan penyesuaian konteks Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar lebih mudah dipahami.
Sementara itu, Muhammad Fadilah, pengajar mengaji isyarat, menjelaskan tentang penyederhanaan materi pembelajaran.
“Mengaji untuk disabilitas tuli bahasanya lebih disederhanakan sebab belum paham bahasa yang rumit. Kalau teman-teman tuli hadir ke pengajian, harus merubah bahasa lebih sederhana,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan motivasi dalam mengajar untuk mendapatkan pahala. Menurutnyapara penyandang disabilitas mempunyai hak untuk mengenal Tuhan.
"Visi saya mengajar ngaji adalah mendapatkan pahala untuk mengajar anak-anak disabilitas tuli sangat banyak sekali. Jadi mengajar dengan ikhlas, saya berharap teman-teman di sini punya hak untuk mengenal Tuhan lebih dekat dan saya menjadi jembatan untuk belajar," ungkapnya.
Mengaji Alquran Bahasa Isyarat ini dilakukan setiap hari Senin dan Kamis.
Ia mengajarkan iqra agar mereka lebih memahami huruf sebelum beranjak ke alquran.
“Kita menggunakan metode iqra karena sebelum membaca Alquran pemahaman mereka masih minim. Tahap awal kita belajar iqra, setelah itu kita lanjutkan ke Alquran isyarat,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Nofilawati Anisa