RADAR SURABAYA – Menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif terus dilakukan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Oleh karenanya, bekerja sama dengan Cardiff University dan Edinburgh Napier University serta didukung oleh British Council, UKWMS menyelenggarakan training and workshop.
Bertajuk “Findings on Barriers & Social Model of Disability with Activities & Campaigns”, pelatihan dan lokakarya berlangsung selama dua hari (25 dan 26 Februari).
Pada hari pertama, diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi dari berbagai institusi di Indonesia. Sementara pada hari kedua, kegiatan melibatkan mahasiswa penyandang disabilitas dan non-disabilitas dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur.
“Kegiatan hari ini (26/2), menjadi kesempatan yang baik untuk saling belajar tentang memahami kebutuhan teman-teman disabilitas. Khususnya bagi para mahasiswa. Inklusi disabilitas adalah tanggung jawab bersama,” ucap Wakil Rektor I UKWMS, Dr. Lanny Hartanti.
Lanny menyebut kolaborasi lintas negara ini menjadi ruang bersama untuk memaparkan hasil riset internasional.
Sekaligus merancang strategi kampanye yang mendorong terciptanya lingkungan pendidikan tinggi yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
“Inisiatif ini juga sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4: Quality Education, SDG 10: Reduced Inequalities, dan SDG 17: Partnerships for the Goals melalui penguatan akses pendidikan tinggi yang setara dan kolaborasi global dalam praktik inklusi sosial,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, hadir dua narasumber. Yakni Dr. Zoe Lee dari Cardiff University Business School, UK dan Prof. Nathalia Tjandra dari Edinburgh Napier University Business School, UK.
Keduanya melakukan pemaparan terkait berbagai hambatan yang masih dihadapi penyandang disabilitas serta penerapan Social Model of Disability dalam konteks pendidikan tinggi.
Melalui website sahabat-id.com yang digagas ketiga perguruan tinggi ini, Prof. Nathalia berharap masyarakat dapat menjadi sahabat yang mampu membantu, mendampingi, dan melindungi teman-teman disabilitas
Sementara itu, melalui pendekatan Social Model of Disability yang dipaparkan Dr. Zoe, disabilitas dipahami bukan sebagai keterbatasan individu melainkan sebagai konsekuensi dari hambatan sosial dan struktural yang membutuhkan perubahan sistemik di tingkat institusi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menempatkan kesetaraan akses dan partisipasi sebagai fondasi utama lingkungan pendidikan yang adil dan inklusif.
“Perlu adanya kepekaan dan kepedulian untuk secara langsung menanyakan kepada teman-teman disabilitas mengenai dukungan atau bantuan yang mereka butuhkan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, UKWMS menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi secara optimal dalam masyarakat. (rul/nur)
Editor : Nurista Purnamasari