Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Warga Surabaya Mulai Borong Kue Kering Lebaran, Nastar Tetap Paling Laris

Andy Satria • Rabu, 25 Februari 2026 | 15:57 WIB

 

PERSIAPAN LEBARAN: Deretan kue kering buatan Diahcookies siap diborong konsumen seiring semakin dekatnya Idulfitri. Diahcookies buka gerai di kawasan kampung Ketandan Surabaya.
PERSIAPAN LEBARAN: Deretan kue kering buatan Diahcookies siap diborong konsumen seiring semakin dekatnya Idulfitri. Diahcookies buka gerai di kawasan kampung Ketandan Surabaya.

RADAR SURABAYA - Penjualan kue kering Ramadan di Surabaya mulai menunjukkan peningkatan.

Meski pola pembelian belum bisa diprediksi, pelaku usaha tetap optimistis menyambut momen Lebaran 2026.

Salah satunya Diah Arfianti, pemilik Diahcookies Surabaya di kawasan Kampung Ketandan.

Menurut Diah, penjualan tahun ini relatif sama dengan tahun lalu.

Pembelian tetap ramai, namun dilakukan secara bertahap oleh pelanggan.

“Penjualan tahun ini sama seperti tahun lalu. Banyak yang beli, cuma bertahap. Saya berharap lebih, tapi kondisinya masih sama dengan tahun lalu,” ujarnya Rabu (25/2).

Ia mengaku belum bisa memastikan pola lonjakan penjualan.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan tren yang berbeda-beda.

Ada kalanya ramai di awal Ramadan, di pertengahan, bahkan menjelang akhir bulan puasa.

“Tahun lalu awal Ramadan sudah ramai. Tapi tahun-tahun sebelumnya justru ramai di akhir. Kadang pertengahan sudah naik. Jadi saya masih meraba-raba akan seperti apa tahun ini,” jelasnya.

Memasuki Ramadan tahun ini, permintaan terpantau cukup baik.

Diah berharap penjualan bisa melampaui tahun sebelumnya, terlebih kapasitas produksi sudah ditingkatkan.

“Tahun lalu ramai sekali. Tahun ini sampai sekarang juga ramai, alhamdulillah. Harusnya bisa lebih dari sebelumnya. Apalagi produksi sudah kami naikkan kapasitasnya. Mudah-mudahan setelah orang menerima THR, belanjanya makin meningkat,” harapnya.

Diahcookies menyediakan 26 varian kue kering dengan harga mulai Rp 65 ribu hingga Rp 130 ribu per toples. Nastar tetap menjadi best seller setiap tahun.

“Nastar tetap paling laris. Rasanya soft, ada rasa susu, dan semuanya handmade, tidak pakai mesin,” katanya.

Diah mengaku sempat mempertimbangkan penggunaan mesin produksi untuk meningkatkan kapasitas.

Namun setelah dicoba, hasilnya dinilai tidak konsisten. “Saya pernah mau beli mesin yang harganya cukup mahal. Tapi setelah dicoba, hasilnya tidak konsisten. Bagaimanapun, tangan manusia lebih detail,” ungkapnya.

Selain faktor kualitas, pertimbangan lain adalah keberlangsungan tenaga kerja musiman. Menurutnya, penggunaan mesin justru membuatnya harus mengurangi karyawan dan menyesuaikan adonan dengan mesin.

“Kalau pakai mesin, adonan harus mengikuti mesin dan karyawan pasti berkurang. Padahal banyak warga sekitar yang kerja di sini setiap jelang Lebaran. Ada yang sudah puluhan tahun bersama saya. Mereka biasanya kerja tiga sampai empat bulan. Saya tidak tega kalau harus menghilangkan itu,” tuturnya.

Seluruh pekerja Diahcookies merupakan warga sekitar Kampung Ketandan.

Selain memudahkan koordinasi, Diah ingin usahanya memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Saya ingin usaha ini tidak hanya bermanfaat untuk saya, tapi juga untuk orang-orang di sekitar sini,” ujarnya.

Diahcookies melayani pembelian langsung dan pemesanan melalui media sosial.

Pengiriman dilakukan ke sejumlah kota dengan catatan risiko kerusakan
ditanggung pembeli, mengingat tekstur kue yang lembut.

Untuk luar kota, sebagian besar pelanggan memilih mengambil langsung ke lokasi.

“Secara nasional sudah ada yang pesan. Di Jakarta kami sudah punya reseller. Bahkan pernah dibawa sampai Eropa sebagai oleh-oleh mahasiswa,” pungkas Diah. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#diah arfianti #kue lebaran #penjualan kue kering di surabaya #ketandan surabaya #nastar #diahcookies