Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

War Takjil Ramadan di Karang Menjangan Surabaya, Makanan Apa Yang Paling Laris?

Andy Satria • Sabtu, 21 Februari 2026 | 20:31 WIB

PENUH SESAK: Suasana pasar takjil di kawasan Jalan Karang Menjangan, Surabaya, nampak dipenuhi warga yang berburu takjil untuk berbuka puasa pada bulan Ramadan, Jumat (20/2).
PENUH SESAK: Suasana pasar takjil di kawasan Jalan Karang Menjangan, Surabaya, nampak dipenuhi warga yang berburu takjil untuk berbuka puasa pada bulan Ramadan, Jumat (20/2).

RADAR SURABAYA - Suasana Jalan Karang Menjangan, Surabaya, tampak lebih ramai dari biasanya saat Ramadan.

Sejak pukul 15.00 WIB, deretan penjual takjil mulai dipadati warga yang berburu hidangan berbuka puasa.

Beragam menu tersedia di sepanjang kawasan tersebut. Mulai dari aneka gorengan, minuman es segar, makanan berat, hingga buah-buahan segar.

Warga silih berganti datang, sebagian besar membeli untuk disantap bersama keluarga atau teman saat berbuka puasa.

Salah satu penjual gorengan, Dyah Kusumawati, mengatakan, sejak hari pertama Ramadan, pembeli sudah memadati lapaknya.

“Mulai hari pertama sudah ramai. Biasanya dari jam 3 sore sampai menjelang buka puasa,” ujarnya, Jumat (20/2).

Dyah mengaku sudah berjualan di kawasan Karang Menjangan selama bertahun-tahun.

Tidak hanya saat Ramadan, hari biasa pun ia tetap membuka lapak.

“Kalau bukan Ramadan, saya sudah siap dari jam 1 siang. Tapi kalau Ramadan, mulai jam 3 sudah ramai,” katanya.

Ia menjual tujuh jenis gorengan, seperti singkong goreng, ote-ote, tahu isi, dan beberapa varian lainnya.

Untuk memenuhi permintaan selama Ramadan, Dyah menghabiskan 40–50 kilogram singkong per hari.

Sementara untuk ote-ote, ia menggunakan sekitar 5 kilogram tepung per hari, belum termasuk tauge, wortel, dan bahan pelengkap lainnya.

Meski harga bahan pokok naik dalam sebulan terakhir, Dyah memilih tidak menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran gorengannya.

“Sudah satu bulan ini harga naik semua. Tapi harga jual dan ukuran tidak saya naikkan. Yang penting penjualan lancar. Daripada dinaikkan, nanti pembeli berkurang, dapur bisa kosong,” jelasnya.

Ia menjual gorengan mulai harga Rp 1.000 per buah. Menurutnya, meski saat ini masih musim hujan, kondisi cuaca tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan. “Alhamdulillah tetap ramai,” imbuhnya.

Ramainya kawasan Karang Menjangan juga dirasakan Gladisya, mahasiswa Fisioterapi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya semester empat. Ia mengaku hampir setiap Ramadan selalu membeli takjil di lokasi tersebut.

“Hari ini beli cilok, lumpia, dan nasi goreng buat buka puasa. Tidak ada incaran khusus, biasanya lihat-lihat saja, yang menarik langsung beli,” katanya.

Gladisya mengaku pernah membeli makanan terlalu banyak hingga tidak habis.

Sejak itu, ia berusaha lebih bijak saat berbelanja takjil.

“Dulu pernah beli banyak banget sampai tidak kemakan, jadi menyesal. Sekarang belinya secukupnya saja, berusaha mengatur makanan yang dibeli,” tuturnya.

Menurutnya, harga makanan di Karang Menjangan tergolong ramah di kantong mahasiswa.

Tak heran jika banyak mahasiswa yang datang ke sana, bahkan di luar bulan Ramadan.

“Kalau jajan memang sering di sini, meskipun tidak Ramadan. Tapi kalau berburu takjil, sudah dua tahun ini pasti ke sini. Harganya pas di kantong,” ujarnya.

Bagi Gladisya, membeli takjil bukan sekadar soal makanan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi Ramadan.

“Biasanya beli tidak sendiri, sama teman atau keluarga. Jadi bisa sekalian bonding, memanfaatkan waktu bersama sebelum berbuka,” pungkasnya. (sam)

Editor : Nofilawati Anisa
#mahasiswa unair surabaya #penjual takjil #gorengan #jalan karang menjangan surabaya #war takjil