RADAR SURABAYA – Keberadaan toko kelontong 24 jam yang kerap disebut masyarakat sebagai Warung Madura semakin mudah ditemui di berbagai kawasan Surabaya. Toko-toko ini hadir di tengah permukiman hingga jalan-jalan penghubung, melayani kebutuhan harian warga tanpa mengenal waktu.
Menanggapi fenomena tersebut, Pemerintah Kota Surabaya melihatnya sebagai bagian dari dinamika ekonomi masyarakat yang tumbuh secara alami. Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopdag) Surabaya Mia Santi Dewi menyampaikan, toko-toko kelontong tersebut umumnya dikelola secara mandiri oleh keluarga.
“Biasanya satu keluarga mengelola satu toko. Ayah, ibu, sampai anak yang sudah beranjak besar ikut membantu. Mereka bergantian jaga, sehingga bisa buka 24 jam,” ujar Mia di Surabaya, Jumat (20/2).
Menurut dia, pola usaha berbasis keluarga seperti itu menunjukkan semangat kerja keras dan solidaritas internal keluarga. Sistem sif yang diterapkan memungkinkan usaha tetap berjalan tanpa harus merekrut banyak tenaga dari luar.
Ia menilai, kehadiran toko kelontong 24 jam juga memberi warna tersendiri dalam lanskap perdagangan Kota Pahlawan. Selain memudahkan warga mendapatkan kebutuhan mendesak di malam hari, toko-toko ini juga menjadi ruang interaksi sosial skala kecil di lingkungan sekitar.
“Ini adalah bagian dari geliat ekonomi warga. Kita melihat semangat kemandirian yang kuat. Mereka membangun usahanya bersama keluarga,” jelasnya.
Mia menambahkan, dinamika perdagangan di kota besar seperti Surabaya memang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Beragam model usaha hadir untuk menjawab gaya hidup dan ritme aktivitas warga yang berbeda-beda.
Baca Juga: Diduga Usai Dianiaya Teman Sekelas, Santri 11 Tahun di Wonogiri Meninggal
Pemkot Surabaya, lanjutnya, memandang setiap pelaku usaha sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kota yang saling melengkapi. Kehadiran toko kelontong 24 jam diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan pelaku usaha lainnya serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Kota ini tumbuh karena kerja keras warganya. Selama usaha itu membawa dampak positif dan membantu kebutuhan masyarakat, tentu menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Surabaya,” pungkasnya. (dim)
Editor : Lambertus Hurek