Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Apa Hubungan Gerd dan Serangan Jantung? Berikut Penjelasan Dosen FK Ubaya

Andy Satria • Jumat, 20 Februari 2026 | 12:05 WIB
dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP
dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP

RADAR SURABAYA - Belakangan ini muncul isu di tengah masyarakat yang mengaitkan Gerd (gastroesophageal reflux disease) dengan serangan jantung.

Banyak yang khawatir gangguan asam lambung tersebut dapat langsung memicu penyakit jantung.

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP., memberikan penjelasan medis.

Menurut dr. Jordan, Gerd tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.

“Gerd secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, bisa meningkatkan risiko munculnya gejala yang menyerupai serangan jantung. Ini dua organ yang berbeda, tetapi tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh,” jelasnya, Kamis (19/2).

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu menerangkan, Gerd baru dapat berkontribusi terhadap gangguan jantung jika didukung berbagai faktor risiko dan melalui proses yang panjang.

Salah satu contohnya adalah peradangan atau inflamasi di lambung akibat Gerd.

Ia menjelaskan, inflamasi tersebut bisa memicu peningkatan kerja saraf simpatik.

Dampaknya, tekanan darah dapat meningkat dan detak jantung menjadi lebih cepat.

Jika kondisi ini berlangsung lama dan disertai faktor risiko lain, jantung berpotensi mengalami pembengkakan yang berujung pada gangguan serius seperti gagal jantung.

“Namun, semua itu membutuhkan waktu dengan alur yang beragam. Tidak ada penderita Gerd akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam waktu singkat,” tegasnya.

Karena itu, dr. Jordan menentang keras diagnosis kesehatan yang tidak melalui prosedur medis baku.

Ia menilai, kesamaan gejala seperti nyeri dada pada Gerd dan penyakit jantung sering kali menimbulkan salah persepsi di masyarakat.

“Kalau ada keluhan nyeri dada, jangan langsung menyimpulkan sendiri. Diagnosis harus ditegakkan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan pemeriksaan khusus,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya mengenali faktor risiko penyakit jantung.

Menurutnya, faktor risiko terbagi menjadi dua, yakni yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan.

Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, dan genetik.

Sementara faktor risiko yang dapat dikendalikan antara lain kadar gula darah, kolesterol, tekanan darah, penggunaan obat-obatan tertentu, gaya hidup, hingga kebiasaan sehari-hari.

“Kenali faktor risikonya. Saat Anda sadar faktor risiko yang melekat pada diri sendiri, Anda sudah masuk tahap pencegahan untuk memperlambat proses memburuknya kondisi. Usia memang tidak bisa dikendalikan, tetapi percepatan kerusakannya bisa dicegah,” tuturnya.

Melihat tingginya angka kasus penyakit kardiovaskular di dunia, dr. Jordan mengajak masyarakat untuk lebih aktif menjaga kesehatan.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, mengelola stres, tidak merokok, istirahat cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan diagnosis mandiri saat mengalami keluhan kesehatan.

“Segera periksakan diri ke tenaga medis profesional jika muncul gejala. Dengan begitu, pemburukan kondisi dan penanganan yang tidak tepat bisa dihindari,” pungkasnya. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#penyakit jantung #serangan jantung #gerd #FK Ubaya #dr Jordan Bakhriansyah Sp JP