RADAR SURABAYA - Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo memimpin Misa Pemberkatan Biara Susteran Sang Timur (PIJ) di Jalan Kedungsari Nomor 10, Surabaya, sebagai tanda resmi dimulainya karya pelayanan para suster Sang Timur di wilayah Keuskupan Surabaya. Perayaan berlangsung khidmat dan dihadiri para imam, biarawan-biarawati, serta umat yang menyambut kehadiran kongregasi tersebut.
Dalam homilinya, Uskup Surabaya yang akrab disapa Uskup Didik itu mengungkapkan keyakinannya bahwa pengalaman panjang para suster Sang Timur di Indonesia selama hampir satu abad akan memperkaya pelayanan Gereja di Keuskupan Surabaya. Ia secara khusus mengundang para suster untuk berkarya di berbagai bidang pastoral, pendidikan, sosial, dan kesehatan.
Baca Juga: Asura Simbol Kota Surabaya, Arek-arek Suroboyo Jadi Tembok Pertahanan yang Abadi
“Saya percaya para Suster Sang Timur mampu memberikan pelayanan terbaik di Keuskupan Surabaya,” ujar Uskup Didik.
Kehadiran Suster Sang Timur di Indonesia berakar sejak 93 tahun silam, ketika para perintis dari Belanda pertama kali mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak pada 29 Mei 1932. Setibanya di Jawa Timur, mereka langsung memulai karya pelayanan di Pasuruan, sebelum kemudian memperluas misi ke wilayah Keuskupan Malang, termasuk ke Pamekasan dan Sumenep.
Tanggal 29 Mei 1932 tersebut kemudian diperingati sebagai tonggak kehadiran dan Hari Kongregasi Sang Timur di Indonesia.
Selama berkarya di Tanah Air, Suster Sang Timur mengembangkan pelayanan di berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan, mereka mengelola Play Group hingga TK, SD, SMP, SMA, serta SLB-C. Di bidang sosial, kongregasi ini mengasuh panti asuhan, asrama putra dan putri, serta anak asuh nonpanti.
Pelayanan kesehatan diwujudkan melalui rumah bersalin dan poliklinik, sedangkan di bidang pastoral mereka melayani rumah retret, pembinaan iman, persiapan baptis, komuni pertama, dan krisma.
Komunitas karya Sang Timur kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia, antara lain di Jawa Timur (Pasuruan, Batu, Malang, Sumenep, Pamekasan, Curahjati Banyuwangi), Yogyakarta (Pakel, Sentul, Nanggulan), Jawa Tengah (Semarang), DKI Jakarta dan Banten (Tomang, Cakung, Ciledug), NTT (Mauloo, Magepanda, Bajawa, Maronggela, Maumere), serta Kalimantan (Ketapang, Simpang Dua). (*)
Editor : Lambertus Hurek