Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasien Ginjal Stadium 1 dan 2 Boleh Puasa, Bagaimana dengan Stadium Lainnya? Berikut Penjelasan Dokter RS Unair

Rahmat Sudrajat • Jumat, 20 Februari 2026 | 11:34 WIB
dr. Mutiara Rizki Haryati, SpPD., K-GH
dr. Mutiara Rizki Haryati, SpPD., K-GH

RADAR SURABAYA - Puasa Ramadan menjadi tantangan besar bagi para penderita gangguan ginjal dan lambung.

Mengingat mereka perlu menjaga kondisi tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan tertentu.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rumah Sakit (RS) Universitas Airlangga (Unair) mengadakan seminar edukasi bertajuk Ramadhan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung di Hall Wikrama, Graha Trimed, RS Unair.

Dua dokter spesialis, yaitu dr. Mutiara Rizki Haryati, Sp.PD., K-GH dan dr. Andi Ratna Maharani, Sp.PD dihadirkan membahas strategi berpuasa sesuai kondisi masing-masing pasien.

Dokter Mutiara menjelaskan penyakit ginjal terbagi menjadi akut dan kronis, dengan yang kronis diklasifikasikan ke dalam lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal.

Bagi pasien stadium 1 dan 2, karena hampir tidak ada masalah pembuangan air atau sampah tubuh, maka sangat boleh berpuasa.

Yang sudah masuk stadium 3a, ini sebaiknya tidak berpuasa, tetapi masih memungkinkan.
Sedangkan stadium 3b akan lebih sehat jika tidak berpuasa.

“Bagi pasien stadium empat dan lima, tepatnya ketika mereka belum cuci darah, tidak direkomendasikan karena dapat mempercepat kemungkinan untuk menjalani dialisis," ujarnya, Rabu (18/2).

Ia menambahkan, pasien yang menjalani terapi rutin sangat dianjurkan tidak berpuasa.

Sedangkan pasien yang telah menjalani transplantasi ginjal disarankan untuk berpuasa setelah satu tahun operasi.

Dokter Mutiara juga menegaskan pentingnya berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa dan menjaga hidrasi, serta menghindari makanan tinggi fosfat dan kalium bagi yang tetap berpuasa.

Sementara itu, keamanan berpuasa bagi penderita gangguan lambung, khususnya penyakit maag atau dispepsia yang biasanya disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup buruk, juga sangat penting.

"Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, olahan, serta minuman berkafein dan bersoda, ditambah faktor stres, merokok, dan kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit ini," ujar dr. Andi.

Ia mengatakan bahwa menghilangkan kebiasaan tersebut dapat mencegah dan mempercepat penyembuhan.

"Apabila ada nyeri berat mendadak, muntah terus menerus, nyeri kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, muntah darah, dan BAB hitam perlu membatalkan puasa. Jika tidak membatalkan puasa, maka berisiko terjadi komplikasi yang lebih serius," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#pasien lambung #pasien ginjal #gangguan lambung #rs unair #puasa ramadan