Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Umat Tri Dharma Doakan Kemajuan Bangsa, Khusyuk Sembahyang Bareng di Klenteng Cokro Surabaya

Rahmat Sudrajat • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:23 WIB

 

KHUSYUK: Malam Imlek, umat Tri Dharma di Klenteng Hong San Koo Tee atau Cokro melakukan sembahyang dan doa bersama, Selasa (17/2) dini hari.
KHUSYUK: Malam Imlek, umat Tri Dharma di Klenteng Hong San Koo Tee atau Cokro melakukan sembahyang dan doa bersama, Selasa (17/2) dini hari.

RADAR SURABAYA - Pergantian tahun baru Imlek 2577 Kongzili atau tahun 2026 dirayakan dengan persembahyangan oleh umat Tri Dharma di Klenteng Hong San Koo Tee atau Klenteng Cokro, Surabaya, Senin (16/2) malam.

Sebelum proses persembahyangan bersama, masyarakat disuguhkan penampilan barongsai yang menyapa umat di dalam kawasan klenteng.

Sementara sebagian umat juga melakukan doa dan persembahyangan secara individu.

Tepat pada pukul 24.00 WIB, persembahyangan bersama dipimpin oleh Romo Darma Meta.

Umat pertama kali berdoa menghadap Tuhan, kemudian melanjutkan dengan persembahyangan menghadap dewa utama.

Menurut Pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee, Erdiana Tejasputra, kegiatan yang diikuti ratusan umat tersebut memiliki makna khusus terkait tahun Kuda Api.

"Tadi sembahyang kemudian berdoa yang dipimpin oleh Romo Ahong (Romo Darma Meta) memohon semoga di tahun Kuda Api permasalahan bisa diselesaikan dan ekonomi bisa kembali seperti dulu dan stabil. Kerukunan bisa dijaga lagi dan bangsa Indonesia semakin maju," harap Erdiana, Selasa (17/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan alasan persembahyangan dilakukan tepat pada tengah malam.

"Kita menyambut untuk Imlek, jadi sembayang pas pukul 24.00 WIB karena mendekati Imlek," ujarnya.

Erdiana juga menyebutkan bahwa penampilan barongsai tidak hanya sekadar hiburan, tapi pembawa rezeki.

"Jadi tadi barongsai masuk itu tidak hanya untuk menghibur tapi ada maknanya yaitu untuk memberikan rezeki jeruk," jelasnya.

Setelah prosesi persembahyangan yang berlangsung sekitar 15 menit, umat saling mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek.

Perhatian juga tertuju pada dewa rezeki yang diperankan oleh seorang pria berkostum khusus.

Dewa rezeki dikelilingi oleh masyarakat yang ingin mendapatkan angpao dengan saling berebut di klenteng tertua berusia seabad ini.

Menurut Erdiana, tradisi umat Tri Dharma tidak berhenti di malam puncak pergantian tahun.

"Nanti pagi biasanya mereka kumpul sama keluarga dan ke klenteng untuk bersilaturahmi dan makan bersama," pungkasnya. (rmt/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#klenteng cokro #tahun baru imlek #surabaya #Sembahyang bersama #umat tri dharma #pergantian tahun