RADAR SURABAYA - Suasana trotoar di sekitar Kota Surabaya tampak sedikit berbeda. Di tengah aktivitas warga dan deru kendaraan, sekelompok anak muda berseragam selempang merah marun menghampiri para tukang becak dan pedagang gerobak. Mereka datang bukan sekadar menyapa, tetapi membawa kepedulian.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Hongbao Sehat yang diinisiasi oleh Duta Kesehatan Jawa Timur 2026 dan Vajra Yeshie Kusala, Cici Jawa Timur Berbakat 2024 sekaligus Runner Up 1 Putri Duta Kesehatan Jawa Timur 2026.
Menurut Yeshie, budaya dan kesehatan bukanlah dua hal yang terpisah. Tradisi berbagi hongbao yang identik dengan keberkahan dan harapan, dihadirkan sebagai medium untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat.
Setiap paket yang dibagikan berisi kudapan, susu, dan hongbao yang di dalamnya terdapat sejumlah uang. “Namun, bagi saya, nilai utama kegiatan ini bukan terletak pada isi bingkisan semata, melainkan pada pesan yang menyertainya,” kata putri sastrawan legendaris Lan Fang itu.
Edukasi yang diberikan sederhana namun krusial, yakni enam langkah cuci tangan yang benar. Dalam perspektif kedokteran, menurut dia, pencegahan, kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu intervensi paling dasar dan efektif untuk menekan penularan penyakit infeksi.
“Hal sederhana seperti cuci tangan sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar bagi kesehatan,” kata Vajra Yeshie.
Di trotoar itu, edukasi tidak disampaikan secara kaku. Para Duta Kesehatan mempraktikkan langsung setiap langkah, mengajak para tukang becak dan pedagang untuk menirukan gerakan. Tangan-tangan yang terbiasa bekerja keras itu mengikuti satu per satu instruksi, diselingi tawa dan candaan ringan.
Suasana terasa hangat. Tidak ada jarak. Tidak ada kesan menggurui. Justru dari interaksi sederhana itulah terlihat makna yang lebih dalam: kedekatan lintas budaya.
Tradisi Tionghoa yang melekat pada hongbao bertemu dengan keseharian masyarakat Jawa dan Muslim yang menjadi sasaran kegiatan. Sebuah akulturasi yang hidup, bukan sekadar simbol.
Yang paling membekas adalah ketika beberapa penerima manfaat mencoba mengulang kembali enam langkah cuci tangan tersebut secara mandiri. Sebuah tanda bahwa pengetahuan yang dibagikan benar-benar diterima.
“Bagi saya, momen itu menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak selalu dimulai dari ruang seminar atau fasilitas besar. Ia bisa tumbuh dari trotoar, dari percakapan sederhana, dari kebiasaan kecil yang perlahan menjadi perilaku,” katanya.
Hongbao Sehat bukan hanya aksi berbagi materi. Ia menjadi jembatan antara tradisi dan ilmu, antara budaya dan pencegahan penyakit.
Dan di pagi itu, di tengah senyum dan ucapan terima kasih, kesehatan terasa begitu dekat,nyata, hangat, dan membumi. (*)
Editor : Lambertus Hurek