RADAR SURABAYA - Perayaan Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang tak selalu identik dengan bunga, cokelat, atau makan malam romantis. Bagi kalangan rohaniwan Katolik di Surabaya, Hari Kasih Sayang justru dimaknai sebagai momentum untuk menebarkan cinta kasih kepada sesama, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Pater Fritz Meko SVD di Surabaya menuturkan bahwa dirinya tidak merayakan Hari Valentine secara khusus. Baginya, kasih sayang diwujudkan melalui sikap hidup sehari-hari yang baik, benar, dan penuh perhatian terhadap orang lain.
“Tidak. Saya hanya merayakan dengan membawa diri secara baik, benar, dan berusaha memancarkan kasih sayang kepada sesama,” ujarnya.
Senada dengan itu, pastor asal Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Romo Pey Hurint menekankan bahwa Hari Kasih Sayang seharusnya mengingatkan umat untuk berbagi. Ia mengutip kisah Injil tentang Yesus yang tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang lapar.
Menurut dia, Yesus menghendaki para murid ikut tergerak hatinya dan mau berbagi, bukan menghitung seberapa banyak yang dimiliki. Tujuh roti yang tampak tidak cukup di mata manusia, kata dia, justru menjadi berkelimpahan di tangan Yesus karena ada keikhlasan untuk berbagi.
“Bukan soal banyaknya ‘roti’ kita, melainkan keikhlasan untuk berbagi dengan sesama,” tuturnya.
Ia menambahkan, tindakan Yesus memecahkan roti dan memberikannya kepada para murid untuk dibagikan menjadi simbol bahwa kasih sejati selalu diwujudkan melalui tindakan nyata. Dalam perayaan Ekaristi, umat diajak mendengarkan sabda, keprihatinan, dan perjuangan Yesus, lalu meneruskannya dengan berbagi kepada sesama.
Romo Pey juga mengingatkan bahwa saat ini banyak orang sedang mengalami kesulitan, terutama mereka yang miskin maupun berada di pengungsian. Karena itu, Valentine seharusnya menjadi momen untuk menunjukkan belarasa, bukan sekadar perayaan simbolik.
“Kita berbagi bukan karena kelebihan, melainkan karena rasa peduli kepada mereka yang menderita,” katanya.
Kedua pastor tersebut sepakat bahwa kasih sayang yang sejati tidak berhenti pada ungkapan, melainkan diwujudkan dalam kepedulian konkret. Dengan berbagi, karunia kasih diyakini tidak akan habis, justru semakin berlipat ganda dan membawa harapan bagi banyak orang. (*)
Editor : Lambertus Hurek