Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Film Dokumenter Titik Buta Karya Mahasiswa UK Petra Ungkap Sisi Tersembunyi Surabaya, Angkat soal Sengketa Tanah hingga Sulitnya Mengakses Makanan Lay

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:32 WIB

 

RAMAI: Diskusi dan skrining film titik buta yang menceritakan realitas Surabaya yang sering tidak disadari.
RAMAI: Diskusi dan skrining film titik buta yang menceritakan realitas Surabaya yang sering tidak disadari.

RADAR SURABAYA – Karya film dokumenter mahasiswa Creative Media Communication Angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (UK Petra) bertajuk Titik Buta disajikan dalam acara screening dan diskusi di CGV Maspion Square Surabaya.

Acara ini menghadirkan tiga film yang mengangkat isu-isu sosial yang kerap luput dari perhatian publik.

Melalui ketiga karya tersebut, para mahasiswa mencoba menyingkap realitas Kota Surabaya yang sering tidak disadari, diabaikan, atau dinormalisasi masyarakat.

Tahun ini, film-film yang diproduksi secara berkelompok 6-7 orang per tim mengangkat topik food waste, proses sosial yang terabaikan, dan kesehatan publik.

"Sejak tahun 2021, kami secara rutin membawa karya mahasiswa ini ke layar bioskop komersial seperti CGV Maspion agar dapat dinikmati khalayak luas. Setiap tahunnya topiknya berbeda-beda, namun harapannya agar para mahasiswa memiliki pengalaman otentik dalam merasakan dinamika kehidupan dunia industri secara langsung," ungkap Daniel Budiana, dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Jumat (13/2).

Proses pembuatan film memakan waktu empat bulan, dari September hingga Desember 2025, yang mencakup riset lapangan intensif hingga tahap pascaproduksi.

Selama pembuatan, mahasiswa menemukan berbagai kompleksitas masalah, seperti sengketa tanah yang melibatkan sejarah penjajahan Belanda.

Karya pertama berjudul All You Can’t Eat garapan Whitnie Odelyn Siauw dan tim menyoroti ironi antara tingginya food waste dengan kesulitan masyarakat mengakses makanan layak.

Film kedua Ini Belum Selesai Shanelle Keisha Susanto dan tim memotret perjuangan warga kampung pecinan Tambak Bayan yang terjebak sengketa tanah sejak 2009, dengan menggunakan kesenian sebagai bentuk perlawanan.

Sementara itu, film ketiga Rail Estate (Nathalie Celine Gunawan dan tim) fokus pada kesehatan publik warga kampung pinggir rel Dupak Magersari yang terdampak urban heat island.

Selain diputar di bioskop komersial, seluruh film telah didaftarkan ke berbagai festival film nasional dan internasional, seperti Globale Mittelhessen (Jerman), Lenses-Vancouver iff (Kanada), dan Freedom Film Fest (Malaysia), dengan pengumuman hasil masih menanti.

Acara yang dihadiri sekitar 112 penonton ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru mengenai Surabaya.

"Lebih dari sekadar tontonan, kehadiran film-film ini diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk lebih peka dan memberikan perhatian terhadap isu-isu sosial di sekitar yang selama ini jarang terdengar atau luput dari perhatian kolektif," pungkasnya. (rmt)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#film dokumenter #kampung pecinan Surabaya #Titik Buta #Sengketa tanah Surabaya #penjajahan belanda #uk petra #CGV Maspion Square Surabaya