Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Robot Futuristik dari Barang Bekas Dipamerkan di Wisma Jerman Surabaya

Andy Satria • Sabtu, 14 Februari 2026 | 10:04 WIB

 

ROBOT DAUR ULANG: Pengunjung mengamati karya-karya robot yang dibuat dari bahan recycled, dalam pameran bertajuk ESCape di Wisma Jerman, Surabaya, Jumat (13/2).
ROBOT DAUR ULANG: Pengunjung mengamati karya-karya robot yang dibuat dari bahan recycled, dalam pameran bertajuk ESCape di Wisma Jerman, Surabaya, Jumat (13/2).

RADAR SURABAYA - Pameran seni rupa bertajuk ESCape digelar di Wisma Jerman, Surabaya.

Pameran ini menghadirkan karya dua perupa, Rachmad Priyandoko dan Henry Siswanto.

Melalui puluhan karya yang dipajang, keduanya mengajak pengunjung melihat seni dari sudut pandang berbeda, yakni memanfaatkan barang bekas menjadi karya bernilai estetis.

Sebanyak 26 karya ditampilkan dalam pameran ini. Terdiri atas 17 karya tiga dimensi (3D) dan 9 karya dua dimensi (2D).

Karya 3D didominasi bentuk robot dan kendaraan yang dibuat dengan metode upcycled atau scrap built, yakni teknik merakit ulang material bekas seperti plastik, logam, dan berbagai komponen tak terpakai.

Sementara karya 2D berupa lukisan tradisional maupun digital dalam berbagai ukuran.

Rachmad Priyandoko, salah satu peserta pameran, mengatakan judul ESCape dipilih bukan tanpa alasan.

Ia terinspirasi dari tombol “esc” pada papan ketik komputer yang dianggapnya unik dan menarik.

Selain itu, istilah escapism yang belakangan kerap digunakan juga menjadi pertimbangan.

“Baik saya maupun Henry sama-sama punya hobi membuat karya di sela aktivitas. Jadi escape kami pilih sebagai judul pameran. Selain terkait escapism, escape juga bisa dibaca sebagai ‘es capek’, obat lelah,” ujar Rachmad, Jumat (13/2).

Menurut Rachmad, karya-karya yang dipamerkan merupakan koleksi pribadi yang sudah lama mereka buat.

Tidak ada proses kurasi khusus dalam pameran ini. Keduanya hanya berdiskusi untuk menentukan karya mana yang akan ditampilkan.

“Kami cuma bertemu, ngobrol bareng, lalu kira-kira mana saja yang cocok untuk dipamerkan,” tambahnya.

Menariknya, karya 2D dan 3D yang ditampilkan saling melengkapi. Lukisan 2D disebut sebagai gambaran ideal atas karya 3D yang mereka buat.

Apalagi sebagian besar karya 3D berbentuk robot atau kendaraan yang dirakit dari barang bekas.

Melalui pameran seni rupa ESCape di Surabaya ini, keduanya ingin menunjukkan bahwa berkarya tidak selalu membutuhkan fasilitas besar atau alat canggih.

Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, karya yang dihasilkan tetap bisa tampil apik dan tak kalah dari buatan pabrik.

“Keterampilan dan kreativitas adalah kunci utama. Apalagi di tengah perkembangan teknologi yang cukup pesat, kita harus terus berkembang,” jelasnya.

Tak hanya soal estetika, pameran ini juga menjadi upaya memperkenalkan teknik scrapbuilding sebagai solusi kreatif pengelolaan sampah.

Barang-barang tak terpakai diolah kembali menjadi karya seni bernilai.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah robot berbobot sekitar 20 kilogram karya Henry Siswanto.

Robot tersebut dibuat dari sisa material logam proyek arsitektur, seperti kanopi, pagar, dan teralis.

“Tantangan terbesarnya menggabungkan material. Mulai dari pemotongan, pengamplasan, hingga pengelasan harus tepat secara teknik dan model agar hasilnya sesuai keinginan. Bahkan Henry menambahkan artikulasi pada karyanya,” ungkap Rachmad.

Persiapan pameran ini dilakukan sejak September tahun lalu.

Di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing, keduanya membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk mematangkan konsep dan menyiapkan karya.

Melalui ESCape, Rachmad dan Henry tak sekadar memamerkan karya, tetapi juga menawarkan ruang pelarian yang produktif.

Dari barang bekas menjadi robot-robot futuristik, dari lelah menjadi karya. (sam)

Editor : Nofilawati Anisa
#robot futuristik #Wisma Jerman #robot dari barang bekas #pameran seni