Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Virus Nipah Ditemukan pada Kelelawar di Indonesia, Epidemiolog Ingatkan Fatalitas Tinggi dan Belum Ada Vaksin

Rahmat Sudrajat • Jumat, 13 Februari 2026 | 18:56 WIB
Windhu Purnomo.
Windhu Purnomo.

RADAR SURABAYA – Temuan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia memicu kewaspadaan kalangan ahli kesehatan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi adanya material genetik virus Nipah (NiV) dalam surveilans nasional 2023–2024.
Meski belum ditemukan kasus pada manusia, epidemiolog mengingatkan tingginya tingkat kematian akibat virus tersebut.

Virus Nipah Sudah Terdeteksi pada Kelelawar

Ahli Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Epidemiologi, Dr. Windhu Purnomo, dr., M.S., menjelaskan bahwa hingga kini pemerintah belum mengumumkan adanya kasus infeksi virus Nipah pada manusia di Indonesia.

Namun, keberadaan virus pada hewan reservoir menjadi sinyal penting untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Secara epidemiologis, belum ada kasus pada manusia di Indonesia. Tetapi virus ini memang sudah terdeteksi pada kelelawar, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan,” ujarnya, Jumat (13/2).

Dalam surveilans nasional tersebut, dari 305 sampel kelelawar buah (codot) yang diperiksa, ditemukan empat sampel mengandung RNA virus Nipah. Artinya, virus sudah ada di Indonesia meskipun belum menginfeksi manusia.

Virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia pada 1998 dan sejak itu menyebabkan wabah di sejumlah negara Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Tingkat Kematian Virus Nipah Capai 80 Persen

Salah satu alasan virus Nipah menjadi perhatian serius adalah tingginya Case Fatality Rate (CFR).
Menurut Windhu, tingkat kematian akibat infeksi virus ini berkisar antara 45 hingga 80 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19.

Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya menyerupai flu, seperti demam dan nyeri badan. Namun, dalam kondisi berat, virus dapat menyebabkan ensefalitis atau radang otak yang berujung pada koma hingga kematian.

“Hingga saat ini belum ada vaksin untuk pencegahan virus Nipah. Karena itu, deteksi dini dan pelaporan cepat sangat penting,” tegasnya.

Imbauan PHBS dan Hindari Buah Terkontaminasi

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga imunitas tubuh dengan asupan gizi seimbang, serta istirahat cukup.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi buah yang telah digigit kelelawar atau buah yang jatuh dan terbuka di tanah karena berpotensi terkontaminasi.

“Jika mengalami demam tinggi, ISPA berat, atau gejala radang otak, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Puskesmas dan rumah sakit harus mampu memantau potensi peningkatan kasus ensefalitis,” jelasnya.

Peran Perguruan Tinggi dan Kolaborasi Lintas Sektor

Windhu menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mencegah potensi wabah. Perguruan tinggi, seperti Universitas Airlangga (Unair), memiliki peran strategis dalam riset, edukasi masyarakat, dan komunikasi risiko kesehatan.

“Upaya pencegahan pandemi tidak bisa dilakukan satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” pungkasnya.(rmt)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#kelelawar #Windhu Purnomo #virus nipah