RADAR SURABAYA - Wayang Topeng Malangan adalah seni pertunjukan tradisional khas Malang, Jawa Timur.
Seni pertunjukan ini memadukan tari, drama, dan topeng kayu, umumnya membawakan kisah Panji.
Seni ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional pada 2014, dengan pusat pelestarian di Padepokan Asmoro Bangun, Dusun Kedung Monggo, Pakisaji, Malang.
Selain sebagai sebuah pertunjukan, kesenian Wayang Topeng Malangan ini mencerminkan sifat guyub (kebersamaan) dan nilai luhur kehidupan.
Wayang Topeng Malangan merupakan ikon budaya Malang yang telah ada sejak abad ke-16, dan terus diupayakan kelestariannya di tengah perkembangan zaman.
Salah satu upaya untuk pelestariannya dilakukan dengan mementaskannya di Surabaya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar pergelaran Wayang Topeng Malangan tersebut di Pendapa Jayengrana, Taman Budaya Jawa Timur, Selasa (10/2) malam.
Pagelaran mengangkat lakon “Candrasmara” yang sarat nilai filosofis kehidupan.
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Hariyono, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen pelestarian seni tradisi.
Menurutnya, Wayang Topeng Malangan harus terus diperkenalkan lintas generasi.
“Wayang Topeng Malangan adalah identitas budaya Jawa Timur yang harus terus dihidupkan,” ujar Deddy.
Lakon “Candrasmara” dipilih karena memiliki pesan universal tentang kesetiaan dan pengorbanan.
Kisah Panji dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Cerita disampaikan melalui tari topeng, gamelan, dan narasi dalang.
Unsur tersebut menghadirkan pesan moral secara estetis dan mendalam.
Pagelaran menampilkan Grup Seni Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya.
Kolaborasi seniman senior dan mahasiswa memperkuat regenerasi pelaku seni.
“Kolaborasi ini penting agar tradisi tidak terputus dan tetap berkembang,” lanjutnya.
Deddy menilai peran generasi muda sangat strategis dalam pelestarian budaya maupun nilai-nilai tradisi yang dipunya Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, ia mengatakan bahwa pagelaran itu juga bagian dari rangkaian workshop pendokumentasian warisan seni budaya yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim pada 2026.
“Topeng Panji ini kami jadikan objek dalam workshop dokumentasi. Peserta dilatih membuat video pendek atau dokumenter dengan kualitas yang baik, dan objeknya adalah kebudayaan,” ujarnya.
Workshop tersebut, diikuti oleh peserta dari unsur humas dan tim dokumentasi dinas kebudayaan pariwisata kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Program itu bertujuan meningkatkan kapasitas SDM daerah agar mampu mendokumentasikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal secara profesional dan berkelanjutan.
Dalam satu rangkaian kegiatan, Taman Budaya Jatim tidak hanya menggelar pelatihan teknis, tetapi juga membuka ruang apresiasi publik melalui pagelaran seni yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.
“Dalam satu kegiatan, kami bisa meningkatkan kapasitas SDM dokumentasi sekaligus melibatkan masyarakat. Objek yang didokumentasikan juga bisa dinikmati langsung oleh publik,” tuturnya.
Selain peningkatan kapasitas, ia menyebut bahwa kegiatan itu juga menjadi sarana memperkenalkan ragam seni budaya Jatim yang memiliki potensi besar untuk dikenal di tingkat nasional hingga internasional.
Workshop yang berlangsung pada 10-11 Februari 2026 itu, untuk hari pertama diisi dengan pemaparan materi dan praktik pengambilan gambar di lapangan, sementara hari kedua difokuskan pada presentasi dan penilaian hasil karya peserta oleh para narasumber.
“Hasil dokumentasi peserta nanti akan kami unggah di kanal YouTube resmi Taman Budaya Jatim. Ke depan, mereka juga kami dorong untuk mengembangkan dan mempromosikan budaya di daerah masing-masing,” jelas Deddy. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa