RADAR SURABAYA – Keguguran berulang kerap membuat trauma kaum Hawa.
Sudah terlanjur bahagia karena positif hamil, tapi dalam perjalanannya harus menelan kesedihan karena janin yang ada di rahim tak bisa dipertahankan.
Spesialis Kesuburan, Bayi Tabung, PCOS, dan Masalah Sperma dari Malaysia, Dr Uma Mariappen mengatakan, keguguran berulang termasuk persoalan yang rumit sekaligus kompleks.
Penyebabnya juga tak hanya karena satu hal, melainkan banyak persoalan dan saling berhubungan.
“Banyak hal yang bisa menyebabkan keguguran berulang. Kita perlu tahu lebih dahulu apa penyebabnya untuk melakukan perawatan untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya,” ungkap Dr Uma dalam sesi sharing dengan sejumlah anggota Komunitas Penjuang Dua Garis di Surabaya, Sabtu (7/2).
Dr Uma menyebut setidaknya ada lima atau enam penyebab utama terjadinya keguguran berulang.
Penyebab-penyebab itu yang paling sering ia temukan di pasiennya.
Penyebab-penyebab utama itu adalah PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), adenomiosis, mioma, polip, gangguan autoimun seperti tiroid dan SLE, serta faktor kromosom atau genetik yang belum terdeteksi.
"Penyebab paling sering yang kami temukan adalah PCOS, sering kali disertai endometriosis. PCOS ini sebenarnya soal metabolisme," katanya.
Lebih jauh ia menjelaskan, pola hidup sehat memiliki peran penting, terutama bagi pasien dengan PCOS.
Dr Uma menjelaskan bahwa PCOS merupakan kondisi metabolisme yang sering berkaitan dengan berat badan berlebih dan resistensi insulin.
"Bila pasien mengatur pola makan yang sehat dan rutin berolahraga, berat badan akan turun dan resistensi insulin berkurang. Ketika itu terjadi, ovulasi bisa kembali muncul dan peluang hamil meningkat," paparnya.
Ia menambahkan, penurunan berat badan sekitar lima persen saja sudah dapat memberikan dampak positif bagi pasien PCOS.
“Berat badan turun lima persen pun sudah cukup untuk menunjukkan perbaikan. Ovulasi mulai terjadi dan pasien bisa mengandung secara alami,” ujarnya.
Dr. Uma juga menekankan pentingnya kesabaran dan batas waktu dalam mencoba kehamilan secara alami.
Bagi perempuan berusia di bawah 35 tahun, waktu yang disarankan adalah satu tahun.
Sementara bagi yang berusia di atas 35 tahun, waktu yang direkomendasikan adalah enam bulan.
“Kalau dalam waktu tersebut belum berhasil hamil, sebaiknya segera berkonsultasi dengan spesialis kesuburan untuk mengetahui penyebabnya,” ingatnya.
Selain aspek medis, Dr. Uma menyoroti pentingnya dukungan mental bagi perempuan yang mengalami keguguran berulang.
Menurutnya, trauma psikologis sering kali membuat pasien merasa takut bahkan sejak melihat hasil tes kehamilan.
“Psychological support itu sangat penting, karena banyak pasien yang trauma dan takut kehilangan lagi meskipun baru melihat dua garis," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rosie, Founder of Menuju Dua Garis dan IVF Warrior mengatakan ide mendirikan Menuju Dua Garis muncul ketika ia merasa tidak memiliki teman berbagi dan kesulitan menemukan platform edukasi kesuburan yang mudah diakses.
“Komunitas ini saya dirikan saat saya menjalani IVF yang kedua. Waktu itu saya merasa sendiri, tidak ada teman, dan tidak ada platform yang menyediakan edukasi kesuburan,” cerita Rosie.
Ia melanjutkan, awalnya hanya membagikan pengalaman secara kasual melalui media sosial.
Namun respons yang datang justru sangat besar dari mereka yang memiliki perjuangan serupa.
“Awalnya cuma sharing santai di Instagram. Ternyata banyak yang merasa relate, lalu saya kumpulkan dan akhirnya terbentuk komunitas Menuju Dua Garis,” ujarnya.
Sejak berdiri pada 2022, Menuju Dua Garis terus berkembang dan kini memasuki tahun keempat.
Rosie menyebut seluruh kegiatan komunitas selalu digelar secara gratis sebagai bentuk komitmen untuk memperluas akses edukasi kesuburan.
“Kami ingin edukasi ini bisa menyeluruh, makanya semua event kami gratis,” ucapnya.
Rosie menambahkan, Komunitas Menuju Dua Garis memiliki grup diskusi berbasis kasus infertilitas agar para anggota dapat saling berbagi pengalaman secara lebih relevan.
“Kalau yang PCOS dikumpulkan dengan PCOS, yang masalah sperma dengan kasus sperma, jadi ngobrolnya lebih nyambung dan saling menguatkan,” pungkas Rosie. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa