Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sandur Madura, Ritme Lama di Tengah Zaman Baru

Muhammad Firman Syah • Jumat, 6 Februari 2026 | 21:02 WIB

Tradisi : Pagelaran Sandur Madura berlangsung dengan iringan musik dan tari khas.
Tradisi : Pagelaran Sandur Madura berlangsung dengan iringan musik dan tari khas.

RADAR SURABAYA – Di tengah laju modernisasi, sebagian masyarakat Madura tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Salah satunya Sandur. Seni pertunjukan rakyat ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ritual sakral yang merekatkan persaudaraan komunitas blater Madura.

Sandur memadukan tembang berbahasa Madura dengan gerak tari spontan. Irama gendang mengiringi lantunan lagu yang kemudian diekspresikan lewat gerakan tubuh alami. Suasananya hangat. Akrab. Penuh kebersamaan.

Bagi masyarakat Bangkalan, Sandur memiliki nilai khusus. Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan dijalankan dengan aturan ketat. Pesertanya hanya laki-laki yang tergabung dalam komunitas Bangkalan. Keanggotaannya berlaku seumur hidup.

Baca Juga: Video Eri Cahyadi Menari Sandur Madura Viral, Simbol Pelestarian Budaya Multikultural

Sekali digelar, Sandur bisa dihadiri ratusan orang. Jumlahnya bahkan kerap menembus 500 peserta. Mereka datang dari beragam latar belakang. Dari masyarakat biasa, pengusaha, hingga tokoh politik dan kepala daerah. Status sosial melebur dalam satu ruang kebersamaan.

Lebih dari pagelaran seni, Sandur menjadi ajang silaturahmi blater se-Madura. Para peserta saling sapa, berjabat tangan, lalu duduk bersila tanpa sekat.

Anggota DPR RI Komisi I, Slamet Ariyadi, termasuk tokoh yang rutin menggelar Sandur di kediamannya. Menurutnya, tradisi ini penting untuk menjaga budaya sekaligus memperkuat ikatan antarkomunitas.

“Pagelaran Sandur Madura ini untuk melestarikan budaya Madura dan mempererat silaturahmi tokoh blater se-Madura,” ujarnya.

Baca Juga: Tradisi Potong Rambut Jelang Imlek, Salon di Surabaya Kebanjiran Pelanggan

Hal serupa disampaikan anggota DPR RI Fraksi PKB, Syaifuddin Asmoro. Ia menilai Sandur sebagai wujud pelestarian kearifan lokal.

“Sandur merupakan tradisi Madura yang harus dijaga. Ini menjadi ajang silaturahmi kaum blater Madura,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, tuan rumah menyiapkan lapangan atau tenda sebagai arena pertunjukan. Dua lenggek—penari pria yang berdandan menyerupai perempuan—menjadi pusat perhatian. Mereka tampil dengan riasan, sanggul, dan gerak anggun saat melantunkan tembang Madura.

Peserta kemudian maju satu per satu menyerahkan uang ke wadah yang disediakan. Semuanya dicatat rapi sebagai bagian dari sistem arisan tradisional.

Sandur berlangsung dalam tiga babak. Dhing-endingan menjadi pembuka dengan alunan musik tanpa syair selepas salat Isya. Lalu ndhung-endhung, saat tarian dan nyanyian mengiringi kedatangan peserta menjelang tengah malam.

Baca Juga: Pemkot Tegaskan Rumah Radio Bung Tomo Tetap Cagar Budaya Surabaya

Puncaknya andongan. Para peserta menari bersama lenggek sambil menyerahkan uang. Momen ini menjadi simbol kuat kebersamaan.

Para blater tampil dengan busana khas Madura. Jaket kulit, sarung, dan peci hitam. Sambil menunggu giliran, mereka menikmati tembang, berbincang, hingga bermain kartu di bawah tenda. Kehadiran tuan rumah dikenal sebagai Kak Tuan sering menjadi penentu membludaknya peserta.

Menariknya, Sandur tidak hanya hidup di Madura. Di tanah perantauan, komunitas asal Bangkalan tetap melestarikannya. Setiap gelaran Sandur bahkan kerap menutup jalan kampung. Sebuah penegasan bahwa Sandur bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan budaya Madura yang terus dijaga lintas generasi. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#Sandur Manduro #gendang #tradisi leluhur #tarian #budaya