RADAR SURABAYA - Kepedulian terhadap maraknya kasus kekerasan seksual pada anak mendorong mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) menghadirkan inovasi edukatif yang ramah anak.
Amelia Margaretha Suprapto, mahasiswa Program Studi Desain dan Manajemen Produk, Fakultas Industri Kreatif (FIK) Ubaya, menciptakan boneka edukatif sebagai media pendidikan seks untuk anak usia dini.
Amelia mengungkapkan, ide pembuatan boneka ini berangkat dari banyaknya pemberitaan mengenai kekerasan seksual di Indonesia.
Setelah menelusuri data, ia menemukan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan sebagai korban.
“Dari situ saya berpikir pencegahan harus dilakukan sejak dini. Berdasarkan wawancara dengan psikolog anak, pendidikan seks sudah boleh diberikan sejak usia 3–5 tahun,” ujar Amelia, Senin (2/2/2026).
Boneka tersebut dirancang sebagai media yang mudah diterima anak-anak sekaligus membantu orang dewasa menyampaikan topik pendidikan seks yang selama ini masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.
Melalui pendekatan visual dan interaktif, Amelia berharap edukasi bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan.
Proses pembuatan boneka ini memakan waktu sekitar satu tahun, sejak semester lima hingga semester tujuh, dan menjadi bagian dari tugas akhir atau skripsinya.
Tahapan awal dimulai dengan pengumpulan data dan studi visual dari buku-buku anak bertema edukasi seksual.
“Saya juga melakukan wawancara dengan orang tua, guru TK, dan psikolog anak. Dari data itu saya membuat lima alternatif desain, lalu ditunjukkan kepada anak-anak dan guru TK untuk melihat mana yang paling mereka sukai,” jelasnya.
Dari proses tersebut, Amelia menggabungkan kelebihan masing-masing desain menjadi satu rancangan terbaik.
Selanjutnya dilakukan studi model untuk menguji rangkaian elektronik, bahan kain, hingga ukuran boneka agar sesuai dan aman digunakan anak-anak.
Setelah melalui beberapa perbaikan, boneka tersebut akhirnya dibuat dalam bentuk prototipe final.
Boneka edukatif ini dilengkapi saklar on-off di bagian belakang dan menggunakan sistem pengisian daya tipe C. Saat dinyalakan, boneka akan mengeluarkan suara “jangan sentuh” ketika area tertentu disentuh, seperti wajah, dada, alat kelamin, dan bokong.
Tak hanya itu, boneka juga memiliki ekspresi wajah magnetik yang dapat diganti, mulai dari ekspresi senang, sedih, hingga marah.
Fitur ini memungkinkan guru atau orang tua menggunakan boneka sebagai media bermain peran dan bercerita.
“Ekspresi wajah ini penting supaya anak-anak lebih memahami emosi dan situasi. Misalnya saat boneka mengatakan ‘jangan sentuh’, ekspresinya bisa dibuat marah agar pesannya lebih kuat,” tambah Amelia.
Ia berharap, boneka ini dapat menjadi alat bantu efektif bagi orang dewasa dalam memberikan pendidikan seks kepada anak-anak.
Selain itu, anak-anak diharapkan menjadi lebih paham, waspada, dan berani melindungi diri sehingga kasus kekerasan seksual dapat dicegah sejak dini.
Saat pertama kali digunakan untuk edukasi, Amelia mengaku mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan.
“Anak-anak masih egosentris, jadi maunya pegang boneka sendiri. Kalau sudah ditempeli temannya, langsung dicabut lagi. Itu justru jadi keseruannya,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa