RADAR SURABAYA - Gangguan perkembangan saraf pada anak usia sekolah menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Umumnya gejala ini tampak sebelum usia 12 tahun dan dapat berlanjut hingga remaja bahkan dewasa. Secara global, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebagai salah satu jenis gangguan tersebut memiliki prevalensi pada anak usia sekolah diperkirakan berkisar 5–10 persen.
Menanggapi persoalan tersebut, pakar Ilmu Psikiatri Anak dan Remaja, serta Ilmu ADHD, kesehatan masyarakat, Prof Yunias Setiawati dr SpKJ SubspAR(K) FISCM ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor epigenetik, lingkungan, dan neurobiologis
Baca Juga: Jatim Borong 34 Persen Emas Indonesia di SEA Games 2025, Khofifah Kucurkan Bonus Besar
Ia menegaskan bahwa etiologi ADHD berkaitan dengan faktor genetik, epigenetik dan lingkungan yang menyebabkan perubahan neurotransmitter di otak anak. "Kombinasi faktor tersebut berperan dalam memicu perubahan sistem neurotransmiter yang berdampak pada perhatian, emosi, dan perilaku," tuturnya, Jumat (30/1).
Prof Yunias mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan ibu selama kehamilan khususnya ketika terjadi infeksi menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada gangguan kesehatan mental anak. “Infeksi material dapat memicu dampak buruk pada kesehatan termasuk fisik, mental, emosional,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, proses epigenetik memang sangat berpengaruh pada perkembangan otak, diferensiasi sel, plastisitas sinaptik, serta fungsi kognitif. "Dengan mempelajari faktor epigenetik ini kita dapat mencegah terjadinya gangguan-gangguan mental pada anak," ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) ini.
Baca Juga: Jelang Angkutan Lebaran 2026, KAI Daop 8 Surabaya Gelar Simulasi Tanggap Darurat
Lebih lanjut, Prof. Yunias menjelaskan bahwa kompleksitas faktor penyebab membuat pendekatan deteksi dini menjadi sangat penting. Hal ini mencakup identifikasi faktor risiko biologi seperti paparan timbal, status nutrisi zinc, serta riwayat infeksi material.
Deteksi dini dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional seperti wawancara orang tua dan guru, observasi perilaku di kelas dan di rumah, hingga pemeriksaan laboratorium. Selain itu, ia juga melakukan penelitian dengan pendekatan terkini di antaranya permainan digital, senam saniman, mindfulness, sensori integrasi dan terapi musik. (*)
Editor : Lambertus Hurek