Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kampus dan Pembangunan Peternakan Desa: Belajar dari Desa Palembon

Rahmat Sudrajat • Kamis, 29 Januari 2026 | 16:13 WIB
Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D.
Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D.

Penulis : Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D.
Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

RADAR SURABAYA - Wacana tentang peran perguruan tinggi dalam Pembangunan seringkali berhenti pada ruang akademik. Padahal tantangan nyata justru berada di desa, tempat ketahanan pangan, kesejahteraan peternak dan keberlanjutan sistem produksi ternak diuji setiap hari. Dalam konteks inilah, program pengabdian kepada masyarakat berbasis desa binaan menjadi penting untuk dimaknai lebih dari sekedar rutinitas tridharma.

Desa Palembon, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, menjadi salah satu contoh bagaimana kampus dapat hadir secara konkret di tengah masyarakat peternak. Melalui program desa binaan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga mendorong pemberdayaan masyarakat peternak dengan fokus pada peningkatan produktifitas ternak, khususnya bebek petelur.

Pada tahap awal, intervensi dilakukan melalui penyaluran bantuan 17 ekor bebek kepada 20 kepala keluarga peternak. Angka ini mungkin tampak sederhana. Namun, dalam perspektif pemberdayaan, langkah awal bukan semata soal jumlah, melainkan tentang membangun kepercayaan, memantik motivasi, dan membuka ruang belajar bersama antara akademisi dan masyarakat.

Peternakan rakyat di pedesaan kerap menghadapi persoalan klasik: keterbatasan modal, manajemen pemeliharaan yang masih tradisional, hingga minimnya pendampingan teknis berkelanjutan. Akibatnya, potensi ternak sebagai sumber protein hewani dan pendapatan keluarga belum dimanfaatkan secara optimal. Program desa binaan menjadi jembatan untuk menjawab persoalan tersebut secara bertahap dan kontekstual.

Pengabdian masyarakat yang berdampak tidak berhenti pada pemberian bantuan fisik, yang lebih penting adalah transfer pengetahuan: praktik pemeliharaan yang baik, pengelolaan kesehatan ternak, biosekuriti sederhana, hingga pemahaman bahwa produktivitas ternak berkaitan erat dengan kesejahteraan peternak itu sendiri. Di titik ini, peran kampus bukan sebagai “pemberi”, melainkan sebagai mitra belajar.

Pendekatan berkelanjutan menjadi kunci. Desa binaan idealnya tidak diberlakukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan sebagai ekosistem pembelajaran bersama. Tahap awal bantuan ternak perlu diikuti dengan pendampingan, evaluasi, dan penguatan kapasitas peternak. Dengan demikian, peningkatan produktivitas tidak bersifat sesaat, tetapi tumbuh secara mandiri.

Lebih jauh, program semacam ini sejalan dengan agenda Pembangunan nasional di bidang ketahanan pangan dan penguatan ekonomi desa. Ketika perguruan tinggi mampu mengintegrasikan keilmuan, riset terapan, dan pengabdian masyarakat, maka kontribusi kampus tidak hanya terukur dalam publikasi ilmiah, tetapi juga dalam perubahan nyara di tingkat akar rumput.

Pengalaman Desa Palembon menunjukkan bahwa pembangunan peternakan pedesaan membutuhkan kolaborasi: antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kampus memiliki sumber daya intelektual, desa memiliki kearifan lokal, dan pemerintah menyediakan kebijakan pendukung. Ketiganya perlu berjalan seiring.

Pada akhirnya, pengabdian masyarakat bukan sekedar kewajiban tridharma, melainkan investasi sosial jangka panjang. Dari desa, kita belajar bahwa pembangunan yang berkelanjutan dimulai dari langkah kecil, konsisten , dan berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat. (*)

Editor : Vega Dwi Arista
#belajar #kampus #peternakan #desa #pembangunan