RADAR SURABAYA - Seni rupa bertajuk Hidden Potion dipamerkan di Artspace lantai UG Surabaya.
Pameran ini menampilkan karya dari lima perupa dengan total 26 buah karya dengan karakteristik khas sang seniman.
Perupa yang karya-karyanya terpampang yakni Ahmad Fahrizal Irsadi, Septian Adi Perdana, Putri Setyowati, Yotandh, dan Izzar Fakhruddin.
Lima seniman ini menyajikan pendekatan dan latar belakang yang beragam.
Menurut penulis Hidden Potion, Rahma Tussofiyah, Hidden Potion berfungsi sebagai ruang pertemuan antara rasa, ingatan, dan proses kreatif.
"Melalui pameran ini, karya seni dipahami sebagai hasil dari pengalaman hidup, ingatan, dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar," ujarnya, Selasa (27/1).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan lahir dari keseharian, isu personal, serta budaya visual yang dekat dengan kehidupan masa kini, dengan beragam teknik, gaya, dan medium yang digunakan para seniman untuk menyampaikan gagasan masing-masing.
"Secara umum, Hidden Potion mengangkat tema relasi manusia, memori, imajinasi, dan pengalaman emosional. Figur, humor, dan referensi budaya kontemporer menjadi bagian dari bahasa visual yang digunakan, sehingga karya terasa dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari," jelas Rahma.
Pameran ini juga mengajak pengunjung untuk melihat karya seni tidak hanya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan dialog.
Sementara itu, General Manager Artotel TS Suites Surabaya, Teddy Patrick, mengatakan komitmen pihaknya dalam mendukung perkembangan seni rupa kontemporer.
"Melalui pameran kali ini, kami ingin menjadi wadah bagi seniman dan publik untuk saling bertemu, berdialog, dan mengapresiasi karya seni. Kami berharap pameran ini dapat memperkaya ekosistem kreatif di Surabaya," ujarnya.
Pameran Hidden Potion akan berlangsung hingga 26 April mendatang. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa