RADAR SURABAYA – Masuk tahun 2026, Namira Eco Print menegaskan komitmennya untuk terus bergerak bersama alam.
Mengusung resolusi bertajuk “Back to Nature”, brand kriya ramah lingkungan Surabaya ini ingin mengajak generasi muda agar lebih peduli terhadap lingkungan dan mulai kembali menghargai alam dari hal-hal kecil di sekitar mereka.
Owner Namira Eco Print, Yayuk Eko Agustin, mengatakan, tema back to nature lahir dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang semakin tergerus akibat gaya hidup manusia yang jauh dari alam.
“Kalau kita tidak baik dengan alam, alam pasti marah. Banjir, longsor, badai itu bukti. Karena itu, kita harus kembali ke alam, mencintai tanah dan tanaman,” ujar Yayuk, Jumat (23/1).
Dalam koleksi terbarunya, Namira Eco Print menghadirkan nuansa warna-warna alami yang lembut dan menenangkan.
Salah satu ciri khas desain terbaru adalah dominasi warna kebiruan yang dihasilkan dari bahan alami berupa lockwood, bubuk kayu yang ketika direbus dapat memunculkan warna biru alami.
“Ecoprint itu warnanya memang soft, alami. Tidak ada warna buatan. Semua dari daun, kayu, dan tanaman,” jelasnya.
Tema back to nature juga diterjemahkan secara visual melalui pemanfaatan tanaman mangrove.
Menurut Yayuk, kawasan mangrove menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan ecoprint karena hampir seluruh jenis tanamannya dapat dimanfaatkan tanpa merusak alam.
“Daerah mangrove itu pas sekali dengan konsep kembali ke alam. Tanamannya bisa dipakai untuk ecoprint, tapi tetap dengan prinsip menjaga keseimbangan,” katanya.
Yayuk menegaskan, dalam filosofi ecoprint, setiap daun yang diambil harus diimbangi dengan menanam kembali.
Prinsip ini menjadi nilai utama Namira Eco Print dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Siapa yang mengambil daun, wajib menanam. Itu komitmen kami,” tegasnya.
Tak hanya mengandalkan tanaman lokal Surabaya, Namira Eco Print juga mengeksplorasi kekayaan flora dari berbagai daerah di Indonesia.
Mulai dari daun jati Jombang, kenikir Pasuruan, tanaman Afrika dari Malang, hingga daun “air mata pengantin” dari Nganjuk dan eucalyptus dari Bandung.
“Indonesia ini kaya sekali. Daun saja bisa menghasilkan warna luar biasa. Ada yang pink, cokelat, krem, sampai keunguan, semua dari alam,” tuturnya.
Dalam pengembangannya, Namira Eco Print juga mengombinasikan teknik ecoprint dengan bordir, pewarna alam, serta kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas pasar sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda.
Yayuk mengakui, mengajak anak muda peduli lingkungan bukan perkara mudah, terutama di tengah arus digital dan gaya hidup instan.
Namun menurutnya, justru di era inilah kesadaran terhadap alam harus ditanamkan kembali.
“Sekarang zamannya Gen Z dan Gen Alpha. Mereka harus mulai peduli. Jangan hanya hidup di dunia maya, tapi lupa alam,” ucapnya.
Sebagai bagian dari resolusi 2026, Namira Eco Print berencana lebih aktif menggandeng generasi muda melalui workshop, edukasi ecoprint, hingga kampanye gaya hidup ramah lingkungan.
“Kita mulai dari hal kecil. Menghargai daun, tanaman, alam. Kalau itu tumbuh, maka kepedulian akan ikut tumbuh,” pungkas Yayuk.
Dengan semangat back to nature, Namira Eco Print berharap ecoprint tidak hanya menjadi produk fesyen, tetapi juga medium edukasi dan gerakan bersama untuk menjaga bumi tetap lestari. (dim)
Editor : Nofilawati Anisa