RADAR SURABAYA - Di tengah menjamurnya kafe modern di Surabaya, sebuah ruang unik hadir dengan menawarkan suasana berbeda.
Damai Studio, sebuah kafe di kawasan Wonokromo, Surabaya yang dilengkapi perpustakaan buku, menjadi tempat singgah baru bagi pecinta literasi yang mendambakan ketenangan.
Pemilik Damai Studio, Redo Nomadore, mengatakan ide mendirikan tempat ini berawal dari keinginannya membuka kantor kecil untuk sebuah yayasan di dalam kota.
Namun, ruang yang didapat dinilai terlalu besar untuk kebutuhan pribadinya.
“Dari situ akhirnya kepikiran membuka kafe, karena memang sejak awal saya punya keinginan membuka kafe sekaligus toko buku,” ujar Redo, Kamis (8/1).
Redo kemudian mengeluarkan seluruh koleksi buku pribadinya yang sebelumnya dijual secara daring.
Konsep awal Damai Studio pun dirancang sebagai toko buku yang memiliki area minum kopi.
Para pelanggan lama juga diberi tahu bahwa kini tersedia toko buku offline yang bisa dikunjungi langsung.
Menariknya, tempat ini tidak secara khusus menyebut dirinya sebagai kafe.
Redo memilih nama “Studio” karena fungsinya yang multifungsi, mulai dari tempat membaca, ngopi, hingga galeri pameran.
“Kita lebih menyebutnya ke Studio, karena bisa dipakai juga untuk pameran,” katanya.
Damai Studio memiliki spesialisasi koleksi buku tua dan langka. Beberapa di antaranya merupakan buku edisi pertama dengan tahun cetak paling lama mencapai 1819.
Selain itu, tersedia pula buku cetakan 1901 dan 1910.
“Genre-nya ada sejarah, sosial politik, science, ilustrasi. Kami juga punya peta-peta tua, poster lama, dan barang-barang bernuansa vintage,” jelas Redo.
Seluruh koleksi buku di Damai Studio merupakan buku preloved dengan jumlah mencapai sekitar 1.100 buku.
Pengunjung diperbolehkan membaca buku secara gratis di tempat. Namun, buku yang ingin dibawa pulang wajib dibeli.
Untuk koleksi tertentu yang kondisinya rentan, pihak pengelola membatasi akses demi menjaga keutuhan buku.
“Pernah ada koleksi kami yang rusak karena terkena tumpahan kopi. Sejak itu, buku-buku tertentu kami bungkus,” ujarnya.
Perawatan buku menjadi perhatian utama, terutama dalam menjaga kelembaban ruangan agar koleksi tetap awet.
Tak sedikit pula koleksi berbahasa Belanda yang diminati para kolektor.
“Kebanyakan pembeli kami memang kolektor. Bahkan banyak yang dari luar kota, dan transaksinya masih melalui online,” kata Redo.
Damai Studio buka setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 24.00 WIB.
Pengunjungnya didominasi mahasiswa dan pekerja yang mencari tempat membaca dengan suasana tenang.
Salah satu pengunjung, Denalin, mahasiswa universitas di Surabaya mengaku nyaman berlama-lama di Damai Studio.
“Tempatnya nyaman dan koleksi bukunya banyak, bisa dibaca gratis. Tidak banyak tempat seperti ini,” ujarnya.
Menurut Denalin, suasana tenang di Damai Studio juga cocok untuk mengerjakan tugas kuliah. “Kalau mau fokus, enak di sini,” katanya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa