RADAR SURABAYA - Obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Tim Sgreefit dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas ekosistem kebugaran berkelanjutan, sebagai upaya penanganan khusus terhadap permasalahan tersebut.
Salah satu anggota Research and Development Sgreefit, Muhammad Rafi Kalevi, menjelaskan, gagasan ini dilatarbelakangi kondisi obesitas yang belum memiliki solusi terpadu.
Sekaligus dampaknya yang tidak hanya pada kesehatan tetapi juga keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
“Data terakhir juga menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan mengalami defisit sebesar Rp 9,6 triliun,” tuturnya, Selasa (6/1).
Upaya penanganan yang diusung berupa sistem terintegrasi antara pelayanan kesehatan dan fasilitas kebugaran, dengan memaksimalkan infrastruktur yang sudah ada seperti BPJS Kesehatan, aplikasi Mobile JKN, dan pusat kebugaran.
“Program ini kemudian memberikan alur yang sistematis dan terintegrasi untuk digunakan dalam memudahkan penanganan obesitas,” ujar Kalevi.
Program ini mengadopsi prinsip Theory of Planned Behavior (TPB) yang mencakup tiga faktor utama niat berolahraga: sikap positif terhadap manfaat olahraga, norma subjektif yang diperkuat oleh institusional, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan melalui kemudahan akses.
Pelaksanaannya, faktor pertama didukung oleh konsep smart gym dan internet of things (IoT) untuk pemantauan kesehatan.
Faktor kedua didukung oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang terintegrasi dengan BPJS.
Sedangkan faktor ketiga didukung oleh kemudahan akses fasilitas kebugaran.
Tahapan program dimulai dari konsultasi medis untuk mendapatkan rekomendasi sesuai kondisi tubuh, kemudian aktivitas olahraga di gym yang terhubung BPJS.
Selain itu, diterapkan juga gamifikasi dengan insentif poin dan voucher untuk meningkatkan motivasi peserta.
“Seluruh tahapan dan rekomendasi juga sudah kami muat dalam dokumen policy brief yang kami publikasikan," imbuhnya.
Menurut perhitungannya, apabila prevalensi obesitas turun 35 persen melalui program ini, beban pengeluaran BPJS dapat berkurang sekitar Rp 10,5 triliun.
Angka tersebut diambil dari asumsi 60 persen total pengeluaran akibat obesitas sebesar Rp 56 triliun ditanggung oleh BPJS.
“Penghematan ini mampu menutup defisit BPJS sebelumnya,” tegasnya.
Harapannya hal ini dapat menjadi program strategis nasional dalam menangani obesitas di Indonesia. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa