Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pakar Sarankan Pemkot Surabaya Perbaiki Integrasi Saluran, Jangan Berlomba Meninggikan Jalan

Rahmat Sudrajat • Senin, 5 Januari 2026 | 16:09 WIB
Genangan parah di kawasan Simo Surabaya. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)
Genangan parah di kawasan Simo Surabaya. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Banjir yang melanda Surabaya pada Minggu (5/1) mengakibatkan beberapa wilayah tergenang cukup tinggi. Di kawasan Simo Kalangan, air setinggi pinggang orang dewasa, bahkan masuk ke rumah-rumah di kawasan Simo Hilir.

Selain itu, banjir juga terjadi di kawasan Dukuh Pakis, Dukuh Kupang, hingga Rungkut. Begitu juga di kawasan lain meski lekas surut.

Menurut pakar tata kota, Benny Poerbantanoe, kondisi tersebut merupakan akibat dari pengembangan dan pembangunan yang masif, sehingga tidak ada lagi ruang untuk resapan air. Hal-hal sederhana seperti itu kurang diperhatikan oleh masyarakat.

"Ini akibat dari pesatnya pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan permukiman yang menurut hemat saya sangat lupa terhadap geografis yang ada," tutur Benny, Senin (5/1).

Dia menjelaskan, banyak lahan kosong diubah menjadi permukiman baru tanpa memperhitungkan pasang tertinggi saluran irigasi. "Belum lagi pembuatan saluran satu dengan lain seperti tidak ada koordinasi. Belum lagi banyak yang meninggikan jalan, sehingga membuat banjir pindah-pindah aliran. Tapi itu sudah terlanjur," jelasnya.

Sudah waktunya masalah tersebut dibenahi, tanpa mengulangi kesalahan seperti berlomba-lomba meninggikan jalan tanpa koordinasi bersama. "Pembangunan box culvert tapi gak ada integrasi sama saja. Perlu adanya integrasi antar permukiman penduduk dan integrasi saluran irigasi yang menjadi saluran pematusan," katanya.

Sebagai contoh, ia menyebut kawasan Jemursari Prapen yang kini harus dibangun pompa air karena kondisinya berada di bawah tanggul. "Seharusnya gak perlu terjadi, kalau awalnya membangun permukiman cermat dan teliti. Bahkan, sungai-sungai kecil yang menuju ke laut alirannya banyak yang hilang dan menyempit. Jadi, sebatas menunggu pompa bekerja dengan baik, tapi terima banjir sebagai konsekuensi," paparnya. 

Menurut Benny, konsep penampungan air seperti sepanjang MERR dari Saluran Pondok Candra hingga Kenjeran perlu dikembangkan kembali. "Kalau dulu dibuat saluran itu kan lumayan untuk menampung air kanan kiri, pemikiran seperti itu kurang dikembangkan," ujarnya.

Baca Juga: Pakar Herbal FKG Unair Surabaya Sebut Jahe Merah Cegah Karies Gigi Anak

Selain itu, tata ruang menurutnya harus dikendalikan. Kalau ada pembangunan permukiman baru, jangan jadikan sebagai pemicu masalah. "Egoisme yang berpikiran pada profit harus dibuang, karena kebersamaan dan sinergi yang tidak terpelihara menjadi salah satu penyebabnya," imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa pengurukan jalan tidak boleh dilakukan secara mandiri terutama di kawasan permukiman. "Tidak hanya cukup dijaga oleh Damkar kemudian disedot, tidak boleh begitu saja tanpa pemikiran mendalam," katanya.

Solusi konkret yang dapat dilakukan saat ini menurutnya adalah merawat bersama-sama semua saluran yang ada, baik sekunder, primer, maupun tersier. "Fenomena di permukiman biasanya ada jalan kemudian kanan kiri ada saluran, karena ditutup ini kemudian kalau ada banjir saling cuci tangan," ungkapnya.

Saluran yang ada meskipun kecil berperan untuk penampungan sementara supaya permukaan ruang yang kita gunakan tidak terjadi genangan. "Coba dipikirkan kembali untuk perawatan box culvert buka tutup, karena hadirnya box culvert hanya meneruskan bukan meresap air," pungkasnya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#integrasi saluran #saluran pematusan #pemkot surabaya #banjir surabaya #Genangan Air #saluran irigasi #box culvert