RADAR SURABAYA — Cuaca di Kota Surabaya pada Senin (5/1/2026) diprakirakan didominasi kondisi berawan hingga berawan tebal sejak pagi hari, dengan potensi hujan dan petir yang dapat terjadi mulai pagi menjelang siang hingga malam.
Pada pagi hari, pukul 06.00 WIB, cuaca terpantau berawan dengan suhu udara sekitar 24 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 91 persen. Memasuki pukul 07.00 WIB, kondisi berubah menjadi berawan tebal dengan suhu meningkat hingga 26 derajat Celsius. Angin bertiup relatif lemah dari arah selatan dengan kecepatan 3–4 kilometer per jam.
Potensi hujan disertai petir mulai muncul sejak pukul 08.00 WIB. Hingga menjelang siang, sekitar pukul 09.00–12.00 WIB, hujan petir bersifat lokal masih berpeluang terjadi dengan intensitas ringan. Suhu udara pada periode ini berkisar antara 27 hingga 31 derajat Celsius, dengan kecepatan angin meningkat hingga 16 kilometer per jam.
Memasuki siang hingga sore hari, pukul 13.00–17.00 WIB, peluang hujan semakin besar. Prakiraan menunjukkan hujan disertai petir hingga hujan ringan berpotensi turun di sejumlah wilayah Surabaya. Suhu udara cenderung menurun dari 30 derajat Celsius menjadi sekitar 28 derajat Celsius, sementara kelembapan udara meningkat hingga mendekati 80 persen.
Pada malam hari, hujan ringan masih berpotensi terjadi hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah itu, kondisi cuaca diperkirakan kembali berawan tebal hingga akhir hari dengan suhu stabil di kisaran 25 derajat Celsius dan kelembapan tinggi di atas 90 persen.
Seiring dengan kondisi tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem pada awal 2026. Hal ini sejalan dengan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan curah hujan di Jawa Timur pada Januari 2026.
Gatot menjelaskan, intensitas hujan pada Desember 2025 tercatat berada di kisaran 20 persen. Namun, pada Januari 2026 angkanya diproyeksikan melonjak hingga 58 persen atau hampir tiga kali lipat. Sementara itu, pada Februari 2026 curah hujan diperkirakan menurun menjadi sekitar 22 persen, meski masih lebih tinggi dibandingkan Desember 2025.
“Peningkatan curah hujan ini tentu berpotensi menimbulkan banjir dan longsor. Karena itu, kami sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten/kota di Jawa Timur,” ujar Gatot Soebroto. (*)
Editor : Lambertus Hurek