Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Akhiri Liburan Nataru dengan Naik Kuda di Taman Suroboyo

Andy Satria • Minggu, 4 Januari 2026 | 15:33 WIB

 

DAMPINGI PENGUNJUNG: Ashabul Khoir, mendampingi salah satu wisatawan yang menggunakan jasa tunggang kuda miliknya, di area Taman Suroboyo, Bulak.
DAMPINGI PENGUNJUNG: Ashabul Khoir, mendampingi salah satu wisatawan yang menggunakan jasa tunggang kuda miliknya, di area Taman Suroboyo, Bulak.

RADAR SURABAYA - Menjelang berakhirnya masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) pada Minggu (4/1), warga Surabaya dan sekitarnya masih memanfaatkan waktu untuk berwisata ringan.

Salah satu wisata alternatif yang banyak diminati adalah tunggang kuda di kawasan Taman Suroboyo, Kecamatan Bulak.

Wisata sederhana berbasis alam ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak.

Selain lokasinya mudah dijangkau, aktivitas tunggang kuda dinilai mampu memberikan pengalaman berbeda tanpa harus keluar kota.

Penyedia jasa tunggang kuda di Taman Suroboyo, Muhammad Ashabul Khoir, mengatakan jumlah pengunjung mengalami peningkatan selama musim libur Nataru.

Namun, kondisi cuaca turut memengaruhi jumlah wisatawan yang datang.

“Kalau musim libur seperti Nataru ini, pengunjung memang naik. Tapi tetap tergantung cuaca, karena akhir-akhir ini sering hujan,” ujar Ashabul, Minggu (4/1).

Untuk menikmati wisata tunggang kuda, pengunjung dikenai tarif yang relatif terjangkau.

Anak-anak dikenakan biaya Rp 25 ribu per orang, sementara untuk dua anak dikenakan Rp 30 ribu.

Adapun tarif untuk orang dewasa sebesar Rp 30 ribu per orang.

Rute tunggang kuda mengelilingi area Taman Suroboyo dengan durasi singkat namun cukup memberi pengalaman berkesan, khususnya bagi anak-anak.

Dalam kondisi cuaca cerah, jasa ini mampu melayani hingga 50 pengunjung dari pagi hingga malam hari.

“Biasanya didominasi anak-anak dan keluarga. Kalau cuaca mendukung, bisa sampai sekitar 50 orang sehari,” jelasnya.

Ashabul menambahkan, jika dibandingkan dengan musim liburan lainnya, lonjakan pengunjung paling tinggi terjadi saat libur Lebaran.

Meski demikian, libur Nataru tetap menjadi salah satu periode ramai bagi pelaku wisata lokal.

Usaha tunggang kuda ini bukanlah hal baru bagi Ashabul. Ia mengaku sudah menjalani usaha tersebut sejak kecil dan telah berlangsung puluhan tahun.

Seluruh penyedia jasa tunggang kuda di kawasan tersebut merupakan warga lokal, dengan jumlah sekitar 14 ekor kuda yang siap melayani wisatawan.

“Saya memang pekerjaannya merawat kuda, sekaligus peternak. Juga jual beli kuda, tapi kebanyakan kuda balap,” ungkapnya.

Menurut Ashabul, kuda yang digunakan untuk wisata memiliki usia yang lebih tua dibandingkan kuda balap.

Untuk keselamatan, beban maksimal penumpang tunggang kuda dibatasi sekitar 70 kilogram.

Mayoritas kuda yang digunakan merupakan kuda Sumba.

Dalam hal perawatan, ia mengakui menjaga kesehatan kuda bukan perkara mudah. Asupan makanan dan kondisi cuaca menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

“Yang paling sulit itu menjaga makanan dan kesehatannya, karena kuda rentan. Cuaca juga sangat berpengaruh. Untuk makanan, kami pakai kulit gandum dari pabrik tepung,” pungkasnya. (sam/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#taman suroboyo #naik kuda #kecamatan bulak #wisata alternatif #libur nataru