Surabaya — Ulah oknum organisasi yang mencatut nama Madura kini berbuntut panjang. Bukan hanya memicu kemarahan publik, tetapi juga menebar rasa takut di kalangan pelaku usaha Warung Madura (Warmad) 24 jam yang tersebar di berbagai daerah.
Ketua Umum Ikatan Keluarga Madura (IKAMA), H.M. Rawi, menegaskan bahwa tindakan arogan dan bernuansa premanisme yang dilakukan atas nama kesukuan Madura telah menciptakan efek domino yang serius. Menurutnya, stigma sosial akibat ulah segelintir oknum kini justru dirasakan oleh warga Madura yang hidup dari usaha kecil, termasuk para pemilik Warmer 24 jam.
“Banyak warga Madura menggantungkan hidup dari usaha Warung Madura yang buka 24 jam. Kalau ada organisasi yang mengatasnamakan Madura tapi berperilaku kasar dan anarkis, dampaknya bukan ke mereka, tapi ke rakyat kecil. Ini saya mendapat keluhan dari para pelaku usaha yang ada dj Papua,” tegas H.M. Rawi pada konfrensi pers dengan awak media di Bangkalan (01/01) kemarin.
Ia mengungkapkan, pascaviralnya kasus pengusiran seorang nenek lanjut usia di Surabaya, dirinya menerima banyak keluhan dari warga Madura di dalam dan luar negeri. Keluhan itu tidak hanya soal rasa malu, tetapi juga kekhawatiran akan keselamatan dan keberlangsungan usaha.
Menurut H.M. Rawi, kemarahan publik yang memuncak harus dibaca sebagai sinyal bahaya. Jika tidak segera dievaluasi, kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang sosial dan ekonomi warga Madura yang selama ini dikenal adaptif dan menghormati nilai lokal di tempat mereka tinggal.
“Orang Madura punya prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nilai ini yang justru dikorbankan oleh ulah oknum. Jangan sampai rakyat kecil yang harus menanggung akibatnya,” ujarnya.
Sebagai organisasi kerukunan yang berdiri sejak 1974, IKAMA menegaskan bahwa membawa nama Madura seharusnya identik dengan pemberdayaan, bukan intimidasi. Organisasi kesukuan, kata H.M. Rawi, semestinya hadir membantu akses permodalan UMKM, pelatihan kerja, dan penguatan sumber daya manusia, bukan malah menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.
“Kalau Warung Madura saja sampai merasa tidak aman karena ulah orang yang mengaku membawa nama Madura, ini alarm serius. Jangan rusak martabat Madura hanya demi kepentingan sempit,” pungkasnya.
Editor : M Firman Syah