Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

ITS Surabaya Percepat Digitalisasi Pertanian, Ciptakan Alat Pantau Tanah dan Hama

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 27 Desember 2025 | 04:50 WIB

 

INOVASI: Tim Pengabdi ITS bersama alat monitoring tanah berbasis Internet of Things yang telah dibuat.
INOVASI: Tim Pengabdi ITS bersama alat monitoring tanah berbasis Internet of Things yang telah dibuat.

RADAR SURABAYA - Untuk mempercepat digitalisasi di sektor pertanian, tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah mengembangkan solusi monitoring tanah dan hama berbasis Internet of Things (IoT) yang bertujuan meningkatkan efisiensi pemupukan.

Menurut ketua tim, Prof. Dr. Katherin Indriawati, dosen Departemen Teknik Fisika ITS, program ini berfokus pada pengembangan sistem dan alat bantu pengambilan keputusan bagi petani.

"Sistem tersebut dirancang untuk membantu petani memantau kesuburan tanah, kelembapan, keasaman, dan unsur hara utama (Nitrogen, Pospor, dan Kalium) secara real time melalui smartphone," jelasnya, Jumat (26/12).

Katherin menjelaskan selama ini petani masih mengandalkan kebiasaan turun-temurun untuk menentukan pemupukan.

"Dengan adanya sistem ini, keputusan dapat diambil berdasarkan data aktual di lapangan," ujarnya.

Sebelum mengembangkan alat, pihaknya lebih dulu memetakan kondisi lahan sawah yang akan dijadikan lokasi monitoring, termasuk observasi terhadap karakteristik fisik tanah, praktik pemupukan yang biasa dilakukan, dan kondisi hama.

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa petani menghadapi kesulitan menentukan dosis pupuk yang tepat karena keterbatasan data kondisi tanah, serta keberadaan hama yang dapat menurunkan produktivitas panen.

Berdasarkan temuan tersebut, tim merancang alat monitoring berbasis IoT yang memadukan sensor tanah, sensor lingkungan, modul pengiriman data jarak jauh, dan perangkat untuk mengusir hama burung.

"Alat ini diuji langsung di lahan sawah mitra untuk memastikan keandalan dan akurasi pembacaan data. Setelah dinyatakan layak, alat diserahkan kepada petani disertai pelatihan teknis mengenai cara penggunaan dan perawatannya," jelasnya.

Untuk mendukung kemandirian keberlanjutan program, juga dilakukan sesi penyuluhan dan pelatihan agar petani dapat mengoperasikan sistem tersebut secara mandiri.

Mereka juga dibekali buku panduan operasional yang berisi langkah-langkah pengoperasian, kalibrasi, dan pengecekan berkala.

Hasil implementasi menunjukkan dampak positif yang signifikan. Kini petani dapat memantau kondisi lahan tanpa harus datang langsung ke sawah memberikan kemudahan terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau akses.

"Mereka juga dapat menentukan dosis dan waktu pemupukan secara lebih presisi berdasarkan data terkini dari sensor, serta menerima peringatan dini terkait kondisi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. Hal ini menjadikan proses pengelolaan lahan lebih efisien, hemat waktu, dan lebih terukur," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#its #tanah #Digitalisasi #iot #surabaya #Pertanian #hama #Pemupukan #Monitoring