Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kebun Raya Mangrove Jadi Laboratorium Alam dan Benteng Kota Surabaya

Dimas Mahendra • Kamis, 25 Desember 2025 | 17:01 WIB
ASRI: Kebun Raya Mangrove Surabaya menjadi laboratorium alam dna tempat wisata di Surabaya. (IST/RADAR SURABAYA)
ASRI: Kebun Raya Mangrove Surabaya menjadi laboratorium alam dna tempat wisata di Surabaya. (IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Di tengah ancaman perubahan iklim, abrasi pantai, dan tekanan urbanisasi pesisir, Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya kian diposisikan sebagai garda terdepan perlindungan lingkungan Kota Pahlawan. Kawasan seluas 34 hektare yang membentang di Gunung Anyar, Medokan Sawah, dan Wonorejo ini tak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga laboratorium alam bagi konservasi mangrove di wilayah perkotaan.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mencatat, hingga Juli 2025 koleksi mangrove di KRM telah mencapai 74 jenis, menjadikannya salah satu pusat konservasi mangrove terlengkap di Indonesia. Keanekaragaman tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung riset ilmiah dan pendidikan lingkungan.

Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menegaskan bahwa pengelolaan Kebun Raya Mangrove sepanjang 2025 diarahkan untuk memperkuat fungsi ekologis kota, bukan semata mengejar kunjungan wisata.

“Pengelolaan Kebun Raya Mangrove Surabaya sepanjang 2025 berjalan pada arah yang tepat. Fokus kami adalah konservasi ekosistem, edukasi lingkungan, serta pelayanan publik yang berbasis keberlanjutan,” ujar Antiek.

Menurutnya, kawasan KRM Gunung Anyar saat ini menjadi prioritas pengembangan, terutama untuk penguatan sarana-prasarana, penataan kawasan, serta peningkatan ketahanan wilayah pesisir dari tekanan lingkungan. Sementara itu, KRM Wonorejo tetap dijaga sebagai kawasan konservasi dan edukasi dengan intervensi minimal.

“Pengembangan dilakukan bertahap dan terintegrasi. Evaluasi rutin menjadi dasar kami agar fungsi konservasi tetap terjaga,” imbuhnya.

Dari sisi kunjungan, Kebun Raya Mangrove tetap menarik minat masyarakat, terutama saat momentum libur panjang. Data UPT KRM Surabaya mencatat, 86.021 pengunjung mendatangi KRM Gunung Anyar dan Wonorejo sepanjang Januari hingga 21 Desember 2025.

“Kunjungan meningkat saat akhir pekan, libur nasional, Idulfitri, Natal, hingga akhir tahun,” kata Antiek.

Akses ke kawasan juga terus diperkuat. Transportasi publik seperti mobil feeder Wira Wiri telah menjangkau area parkir KRM Gunung Anyar, sementara pada waktu tertentu tersedia armada Bus SSCT (Surabaya Sightseeing and City Tour) yang terintegrasi dengan rute wisata kota.

Meski berkonsep konservasi, Kebun Raya Mangrove juga memberi dampak ekonomi. Sejak penerapan Perda Nomor 7 Tahun 2023 dan Perwali Nomor 26 Tahun 2025, KRM mulai berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan tercatat menjadi salah satu penyumbang terbesar PAD sektor wisata di bawah DKPP dalam dua tahun terakhir.

Namun Antiek menegaskan, kontribusi ekonomi bukan tujuan utama. “PAD adalah dampak ikutan. Fokus kami tetap pada konservasi, edukasi, dan jasa lingkungan. Pengembangan wisata dilakukan secara proporsional agar tidak mengorbankan ekosistem,” tegasnya.

Antiek juga meluruskan persepsi publik terkait KRM Wonorejo, yang kerap disamakan dengan wisata mangrove komersial.

“KRM Wonorejo adalah kebun raya dengan mandat khusus. Fokusnya konservasi ex situ dan in situ, penelitian ilmiah, serta pendidikan lingkungan. Tidak bisa disamakan dengan kawasan wisata rekreasi murni,” jelasnya.

Seluruh pengelolaan KRM Surabaya, lanjut Antiek, mengacu pada lima fungsi utama kebun raya: konservasi, penelitian, pendidikan, wisata terbatas, dan jasa lingkungan, yang diperkuat dengan pengembangan alternatif pangan berbasis mangrove.

“Selain rehabilitasi vegetasi, kami mengoptimalkan fungsi mangrove sebagai pelindung pesisir, penyerap karbon, serta sumber pembelajaran dan pangan berkelanjutan,” pungkasnya.

Dengan peran strategis tersebut, Kebun Raya Mangrove Surabaya kini tidak hanya menjadi ruang hijau kota, tetapi juga simbol keseriusan Surabaya dalam menjaga masa depan pesisirnya di tengah tantangan perubahan iklim. (dim/gun)

Editor : Guntur Irianto
#Gunung Anyar #pengunjung #dkpp surabaya #wisata #benteng #dimana #terbaru #mangrove #berita surabaya #berita surabaya hari ini #pohon #Tumbuhan #alam #pemkot surabaya #laboratorium #kebun #Alami #letak #abrasi #wonorejo #Raya #potensi