RADAR SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).
Penghargaan diraih melalui pelaksanaan pemeriksaan kanker prostat gratis berbasis Prostate Specific Antigen (PSA) bagi 420 orang.
Angka ini tercatat sebagai jumlah terbanyak dalam penyelenggaraan skrining prostat.
Piagam penghargaan MuriI diserahkan langsung kepada Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST. MScEng., PhD bersama Sekretaris Institut ITS Prof. Dr. Umi Laili Yuhana, SKom., MSc.
Capaian ini merupakan hasil sinergi antara Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, DWP ITS, Pemerintah Kota Surabaya, serta Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI).
Rektor ITS, Prof. Bambang menegaskan bahwa rekor ini menjadi indikator peningkatan kesadaran warga ITS dan masyarakat terhadap kesehatan.
Menurutnya, deteksi dini merupakan kunci krusial untuk menekan risiko fatalitas penyakit serta mencerminkan kepedulian institusi terhadap kesejahteraan sivitas akademika.
“Ini adalah wujud tanggung jawab sosial ITS sebagai kampus yang humanis,” ujarnya, Rabu (24/12).
Sementara itu, Dekan FKK ITS dr. Lukman Hakim , MARS., SpU(K)., PhD memaparkan bahwa angka kejadian kanker prostat meningkat tajam hingga tiga kali lipat di Asia dalam 10 tahun terakhir.
Ironisnya, lebih dari 50 persen pasien di Indonesia baru terdeteksi pada stadium lanjut saat pertama kali memeriksakan diri.
“Perubahan perilaku hidup sehat masyarakat bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan seluruh elemen masyarakat,” terangnya.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa pelaksanaan skrining massal ini menerapkan standar prosedur medis yang ketat menggunakan metode Rapid PSA test.
Dari total 420 pria yang menjalani skrining, sebanyak 30 persen merupakan sivitas akademika ITS dan sisanya adalah masyarakat umum yang memenuhi kriteria risiko tinggi.
“Kecepatan dan ketepatan prosedur inilah yang menjadi poin penilaian vital bagi MURI,” tambah pakar urologi tersebut.
ITS juga memastikan adanya pendampingan berkelanjutan bagi peserta yang menunjukkan hasil pemeriksaan di atas ambang normal 4 ng/ml.
Seluruh data dijaga kerahasiaannya dan diberikan secara personal kepada peserta sebagai dasar rujukan medis ke spesialis urologi, yang dilakukan untuk mendobrak stigma tabu yang selama ini menghalangi pria dalam melakukan pemeriksaan organ vital.
Ketua DWP ITS Galih Kanestri Dewi Pramujati menambahkan, peran organisasi sosial dalam kolaborasi ini adalah menumbuhkan budaya preventif di tengah masyarakat.
Melalui antusiasme peserta yang mencapai 1.300 orang pada seminar awam kesehatan reproduksi, sinergi lintas elemen ini terbukti efektif dalam memobilisasi kesadaran kesehatan.
“Kami ingin menumbuhkan budaya preventif agar pola hidup sehat semakin membudaya di lingkungan ITS,” pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa