RADAR SURABAYA - Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), libur panjang menjadi momen yang dinanti anak-anak setelah menjalani satu semester penuh dengan rutinitas sekolah. Masa libur kerap dimanfaatkan sebagai waktu jeda dari aktivitas akademik, dan menurut psikolog, Nur Ainy Fardana Nawangsari, hal ini memberikan berbagai manfaat bagi proses tumbuh kembang mereka.
Ia juga mengatakan bahwa liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak. Pasalnya, anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional mereka.
Baca Juga: Shopee Live Superstar Hadirkan Pengalaman Belanja Interaktif dan Promo Spektakuler, Catat Penjualan Hingga 16 Kali Lipat
“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelasnya, Selasa (23/12).
Perempuan yang akrab disapa Neny ini menilai bahwa pengalaman baru tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar. Orang tua dapat merancang aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik, sekaligus menjadi waktu kebersamaan keluarga.
“Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orang tuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana. Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.
Baca Juga: Bursa Transfer: Manchester United Dapat Lampu Hijau Rekrut Ruben Neves dengan Diskon Rp640 Miliar
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa aktivitas selama liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu. Tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan, karena masa libur perlu diposisikan sebagai ruang bermain dan berekspresi agar anak dapat mengenali dirinya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.
Peran orang tua menjadi aspek penting dalam memastikan liburan anak benar-benar bermakna. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, sehingga orang tua perlu peka dalam mendampingi dan memfasilitasi aktivitas selama libur.
“Orang tua bisa bertanya kepada anak apa yang ingin dilakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” ujar dosen Psikologi Unair ini.
Neny juga menekankan bahwa meskipun liburan kerap dipandang sebagai masa ‘bebas’ bagi anak, pendampingan orang tua tetap diperlukan. Ia mengingatkan agar waktu luang yang lebih panjang tidak membuat anak terpapar aktivitas atau informasi yang berisiko terhadap perkembangan dan keselamatan mereka.
“Orang tua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya. Baik fisik maupun mental,” pungkasnya. (*)