RADAR SURABAYA - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim prihatin terkait temuan anak-anak di Surabaya sudah menjadi pengguna aktif narkotika. Hal itu terungkap setelah BNNP Jatim menemukan 15 anak-anak atau pelajar SMP di Jalan Kunti, Surabaya, positif memakai berbagai jenis narkotika.
"Sangat prihatin anak SMP di situ saya tidak melaksanakan upaya paksa menggandeng menarik. Mereka datang sendiri. Dari 50 orang, 15 orang diantaranya aktif menggunakan narkotika berbagai macam jenis," kata Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Budi Mulyanto, Minggu (21/12).
Dia menuturkan, padahal anak-anak usia tersebut merupakan salah satu kandidat peserta Indonesia Emas 2045. Namun mereka sudah terpapar narkotika.
"Sisi baiknya, Allah baik mereka sadar mereka datang untuk melaporkan sesuatu hal yang apa dialami untuk bertaubat tadi," ucapnya.
Brigjen Budi, menjelaskan berbicara kawasan Jalan Kunti layaknya menonton film Pablo Escobar. "Satu aktifitas masyarakat bukan resisten terhadap narkoba. Tapi malah melindungi. Salah satu contohnya kita datang ke sana begitu sudah mau (masuk) yang jual gorengan yang jual warung sudah saling menginformasikan ada ini ada orang asing seperti itu," ungkapnya.
Kedua, lanjut Budi, berbicara fakta membeli narkoba di wilayah Kunti sangat mudah. Menurutnya, hal itu berarti ada dukungan yang besar dari masyarakat. "Masyarakat salah pemahaman. Bahwa menjual itu sama dengan merusak masa depan keluarganya. Bukan mendapatkan nilai ekonomis dari hasil penjualannya. ketiga sangat prihatin anak SMP di situ menjadi pengguna aktif narkotika berbagai jenis," bebernya.
Budi melanjutkan untuk itu strategi membersihkan Jalan Kunti dari penyalahgunaan dan peredaran narkoba dilakukan secara bertahap. Mulai dari soft power,medium power, hingga hard power.
Soft power dengan edukasi, penyuluhan, rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat. Medium power dengan pengawasan ketat lingkungan dan pendampingan sosial dan hard power dengan tindakan tegas terhadap jaringan pengedar dan bandar yang masih beroperasi. (rus/gun)
Editor : Guntur Irianto