RADAR SURABAYA - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P.,FISR mensupport penuh kehadiran rumah sakit swasta yang makin berkembang pesat di Surabaya dan didukung dengan berbagai peralatan modern dan canggih.
Selain akan memberikan pilihan pelayanan kesehatan yang makin baik pada masyarakat, juga bisa menjadi alternatif sehingga pasien asal Surabaya, Jatim dan Indonesia tidak lagi harus ke luar negeri untuk berobat. Semua bisa diatasi rumah sakit di Surabaya.
“Kami support rumah sakit yang memberikan pelayanan terbaik. Dengan dukungan tekonologi yang makin canggih, hal ini akan menjadi alternatif bagi pasien sehingga tidak perlu lagi ke luar negeri untuk berobat. Semua sudah ada di Surabaya,” kata dr. Benjamin, Jumat (19/12).
Dia memberikan contoh, Waron Hospital yang tidak hanya megah bangunanya, namun juga didukung dengan peralatan modern teknologi terkini serta tenaga medis yang professional.
Dia mengakui, untuk membangun rumah sakit yang didukung dengan tekonologi medis memang memerlukan investasi besar mencapai ratusan miliar. Dan itu bisa dilakukan rumah sakit swasta.
“Dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki, rumah sakit ini akan menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan terbaik. Kini, masyarakat Surabaya dan Jatim tidak perlu lagi ke luar negeri. Karena disini sudah lengkap peralatannya dan SDM sangat mempuni,” tambah dr. Benjamin.
CEO Waron Hospital, Dr. dr. H. Amang Surya P., Sp.OG., F-MAS, menjelaskan bahwa Waron Hospital didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga humanis.
“Kami berkomitmen menghadirkan rumah sakit yang memberikan rasa aman, nyaman, dan penuh empati, terutama bagi pasien perempuan dan anak beserta keluarganya,” jelas dr. Amang.
Sementara itu, Direktur Waron Hospital, dr. Nikolas Dwi Susanto, M.Kes, menambahkan, secara tekonologi dan kapasitas kemampuan SDM-nya, rumah sakit di Indonesia termasuk di Surabaya tidak kalah dengdan rumah sakit di Singapura, Malaysia, Jepang, China dan lainnya.
Namun diakui, untuk membangun kepercayaan masyarakat akan kualitas pelayanan dan fasilitas rumah sakit di Indonesia buka hal yang mudah.
Sebab itu, harus dibangun ekosistem kesehatan yang melibatkan semua pihak terkait sehingga kepercayaan masyarakat akan terbangun.
“Menciptakan trust masyarakat butuh waktu dan bisa dibangun dari pengalaman. Kami tidak bisa bergerak sendiri. Butuh support dari ekosistem mulai puskesmas, klinik, dinas kesehatan, rumah sakit semua bergerak bersama memperbaiki layanan,” ungkapnya.
Meskipun banyak pasien ke luar negeri, namun banyak yang menghadapi kendala terutama Bahasa.
Meskipun ada penerjemah, namun hal itu tidak senyaman jika pasien dan dokter setiap hari berkomunikasi dengan Bahasa Ibu, Indonesia.
“Pasien tidak hanya memerlukan pelayanan medis yang baik saja namun juga kenyamanan melalui pendekatan emosional baik dengan pasien maupun keluarganya,” tutup dr Nikolas. (fix)
Editor : Nofilawati Anisa