Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tampilkan Kehidupan Anak-Anak Pekerja Migran, Romi Perbawa Gelar Pameran Foto di Surabaya

Andy Satria • Minggu, 21 Desember 2025 | 01:58 WIB
ANAK PEKERJA MIGRAN: Pengunjung mengamati foto karya fotografer dokumenter, Romi Perbawa yang mengangkat kehidupan anak-anak dari pekerja migran, di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jumat (19/12)
ANAK PEKERJA MIGRAN: Pengunjung mengamati foto karya fotografer dokumenter, Romi Perbawa yang mengangkat kehidupan anak-anak dari pekerja migran, di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jumat (19/12)

RADAR SURABAYA - Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di kompleks Alun-Alun Kota Surabaya menjadi ruang berbagi cerita kemanusiaan melalui pameran foto dokumenter bertajuk Au Loim Fain karya fotografer dokumenter Romi Perbawa.

Pameran ini digelar selama lima hari, mulai 18 hingga 22 Desember 2025.

Pameran tersebut mengangkat kisah kehidupan anak-anak pekerja migran, sebuah tema yang jarang tersorot namun menyimpan banyak persoalan sosial.

Au Loim Fain diambil dari bahasa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berarti “aku ingin pulang”, menggambarkan kerinduan dan kerentanan yang dialami anak-anak dalam lingkaran migrasi tenaga kerja.

Romi Perbawa menjelaskan, pameran ini digelar bertepatan dengan peringatan International Migrant Day yang diperingati setiap 18 Desember.

Karya ini sebelumnya pernah dipamerkan di ArtJog 2023, namun Surabaya memiliki arti tersendiri baginya.

“Di Surabaya saya belum pernah menggelar pameran tunggal foto dokumenter. Karena itu saya memilih kota ini sebagai ruang berbagi cerita,” ujar Romi, Jumat (19/12).

Pameran foto dokumenter ini merupakan proyek jangka panjang yang ia kerjakan sejak 2012.

Proyek tersebut sempat terhenti, lalu kembali dilanjutkan pada 2015 dan rampung pada 2018.

Dalam pameran ini, Romi menampilkan 20 foto yang dipilih dari beberapa isi bukunya.

Ide proyek ini bermula dari pertemuan tidak sengaja Romi dengan seorang anak pekerja migran.

Dari situ, ia terdorong untuk mendokumentasikan kehidupan anak-anak yang terdampak migrasi, sekaligus menyuarakan pentingnya pendidikan bagi mereka.

“Saya melakukan riset terlebih dahulu. Bukan hanya anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya bekerja ke luar negeri, tetapi juga anak-anak yang ikut bekerja, bahkan ada yang lahir di negara tempat orang tuanya bekerja. Permasalahannya sangat kompleks,” jelasnya.

Foto-foto dalam pameran ini diambil di beberapa lokasi, di antaranya Indonesia, Malaysia, dan Hong Kong.

Sebagian karya dicetak menggunakan media akrilik dengan foto hitam putih menampilkan wajah yang diburamkan demi pertimbangan etika. Beberapa foto bahkan diambil di dalam penjara.

“Mereka dipenjara bukan karena kriminal, tetapi karena kekurangan dokumen. Jumlahnya banyak,” ungkap Romi.

Dalam proses pengerjaannya, Romi menghadapi berbagai tantangan, salah satunya saat memotret di Pulau Sebatik.

Ia sempat diinterogasi selama seharian oleh petugas setempat setelah ketahuan mengambil gambar secara sembunyi-sembunyi.

Tantangan lain adalah proses perizinan untuk memotret di penjara yang memakan waktu hingga enam bulan, serta pendekatan panjang kepada subjek foto.

Selain pameran, Romi juga merilis buku foto Au Loim Fain. Buku ini menjadi proyek keduanya setelah buku foto tentang joki kuda anak di Sumbawa.

Melalui pameran ini, Romi berharap tumbuh kepedulian seniman dan masyarakat luas terhadap kehidupan pekerja migran Indonesia, terutama anak-anak mereka.

“Permasalahan paling besar justru ada pada anak-anak. Menurut saya, untuk mendapatkan bangsa yang lebih baik, harus dimulai dari kehidupan anak-anaknya, melalui pendidikan,” pungkasnya. (sam)

Editor : Nofilawati Anisa
#fotografer dokumenter #pekerja migran #hongkong #surabaya #galeri dks #romi perbawa #pameran foto #Alun-alun Surabaya #nusa tenggara timur